Rashdul Kiblat BekasiRashdul Kiblat Bekasi diikuti lebih dari 3.400 warga. verifikasi arah kiblat yang akurat menggunakan fenomena matahari tepat di atas Ka'bah.

Rashdul Kiblat Bekasi menarik lebih dari 3.400 warga untuk memverifikasi arah kiblat melalui fenomena matahari tepat di atas Ka’bah. Metode ini dinilai memiliki tingkat akurasi tinggi dan dapat dilakukan secara sederhana di rumah.

Rashdul Kiblat Bekasi mendapat sambutan besar dari masyarakat Kabupaten Bekasi. Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bekasi mencatat lebih dari 3.400 warga mendaftarkan diri untuk mengikuti verifikasi arah kiblat yang berlangsung pada 15–16 Juli 2026, bertepatan dengan fenomena matahari berada tepat di atas Ka’bah.

Tingginya jumlah peserta menunjukkan meningkatnya perhatian masyarakat terhadap ketepatan arah kiblat sebagai bagian penting dalam pelaksanaan ibadah salat. Selain itu, kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan memanfaatkan fenomena alam yang hanya terjadi dua kali dalam setahun.

Fenomena Rashdul Kiblat Dinilai Lebih Akurat dari Kompas

Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Kabupaten Bekasi, Nedi Junaedi, menjelaskan metode Rashdul Kiblat atau Istiwa A’zam memanfaatkan posisi matahari ketika berada tepat di atas Ka’bah. Pada momen tersebut, bayangan benda yang berdiri tegak lurus akan menunjukkan arah kiblat secara langsung.

Yang mendaftar mencapai sekitar 3.400 orang se-Kabupaten Bekasi untuk memverifikasi arah kiblat melalui metode Rashdul Kiblat atau Istiwa A’zam. Ini menunjukkan antusiasme masyarakat sangat tinggi untuk memastikan arah kiblat secara benar,” ujar Nedi.

Menurutnya, di wilayah Indonesia bagian barat fenomena tersebut terjadi sekitar pukul 16.27 WIB. Oleh sebab itu, masyarakat dapat memanfaatkan bayangan tongkat atau benda yang berdiri tegak lurus sebagai penunjuk arah kiblat dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi.

Ia menambahkan, metode ini memiliki keunggulan dibandingkan kompas karena tidak dipengaruhi medan magnet maupun faktor teknis lainnya. Dengan kata lain, Rashdul Kiblat memanfaatkan fenomena alam sehingga hasil pengukurannya lebih presisi.

Apabila hasil verifikasi menunjukkan arah kiblat masjid atau musala sedikit bergeser, penyesuaian tidak harus dilakukan dengan mengubah bangunan. Sebaliknya, pengelola cukup mengatur ulang arah saf salat atau posisi karpet mengikuti hasil pengukuran terbaru.

Selain itu, masyarakat juga dapat melakukan verifikasi secara mandiri di rumah. Nedi menjelaskan tongkat harus dipasang benar-benar tegak lurus di atas permukaan rata. Untuk membantu ketepatan posisi, pengguna dapat memanfaatkan bandul atau waterpass.

Kemenag Kabupaten Bekasi mengajak masyarakat memanfaatkan momentum Rashdul Kiblat, baik untuk memverifikasi arah kiblat di masjid, musala, maupun rumah, karena fenomena tersebut hanya berlangsung dua kali setiap tahun, yakni pada Mei dan Juli.