Lestari MoerdijatWakil Ketua MPR RI Lestari Moerdija

Bahasa Kita – Sosialisasi Empat Pilar terus dikembangkan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda. Salah satu metode yang kini digunakan adalah pemutaran film Teman Tegar Maira: Whisper from Papua atau Maira sebagai sarana pendidikan kebangsaan.

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menjelaskan, pemanfaatan film menjadi upaya untuk menghubungkan nilai-nilai kebangsaan dengan realitas yang dihadapi anak muda saat ini. Menurutnya, generasi penerus bangsa perlu memahami Empat Pilar tidak hanya sebagai konsep, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Kami memakai film Teman Tegar Maira: Whisper from Papua (Maira) sebagai medium untuk menyosialisasikan Empat Konsensus Kebangsaan kepada generasi muda,” kata Lestari Moerdijat saat menerima produser, sutradara, dan para pemeran film Maira di Jakarta, Jumat (5/6).

MPR Gunakan Film sebagai Media Pendidikan Kebangsaan

Sosialisasi Empat Pilar melalui film Maira menjadi bagian dari upaya MPR RI menghadirkan metode pembelajaran yang lebih kontekstual. Dalam setiap kegiatan, peserta tidak hanya menonton film, tetapi juga mengikuti sesi pengantar, refleksi, dan diskusi.

Selain itu, pembahasan dalam kegiatan tersebut menghubungkan nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika dengan isu lingkungan hidup dan keberlanjutan.

Menurut Lestari, pendidikan kebangsaan harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Karena itu, pendekatan melalui film dinilai lebih mudah diterima oleh generasi muda.

Film Maira Dipilih karena Angkat Isu Lingkungan

Film Maira dipilih bukan tanpa alasan. Cerita yang diangkat menyoroti hubungan manusia dengan alam, hutan, dan keberlanjutan kehidupan.

Dalam konteks tersebut, MPR RI melihat adanya keterkaitan antara nilai kebangsaan dan tanggung jawab menjaga lingkungan hidup. Oleh sebab itu, film ini dinilai relevan sebagai sarana edukasi bagi pelajar dan mahasiswa.

Film Teman Tegar Maira
Film Teman Tegar Maira “Whisper from Papua”

Yang jadi sorotan, kegiatan nobar tidak hanya mengajak peserta memahami konsep kebangsaan. Namun, peserta juga diajak melihat pentingnya menjaga ruang hidup bersama sebagai bagian dari tanggung jawab warga negara.

Kebangsaan tidak hanya berbicara tentang hubungan antarmanusia. Kebangsaan juga berbicara tentang bagaimana kita menjaga ruang hidup bersama. Menjaga lingkungan adalah bagian dari menjaga bangsa,” tegas Lestari.

Sudah Menjangkau Ribuan Pelajar dan Mahasiswa

Hingga saat ini, rangkaian Sosialisasi Empat Pilar melalui film Maira telah berlangsung di berbagai daerah. Kegiatan tersebut digelar di Palu, Kudus, Jakarta, Tangerang, dan Jember.

Menurut Lestari, program tersebut telah menjangkau sekitar 1.500 pelajar dan mahasiswa. Angka itu menunjukkan tingginya antusiasme peserta terhadap pendekatan edukasi berbasis film.

Selain memberikan pengalaman belajar yang berbeda, metode ini juga dinilai mampu menghadirkan pembahasan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari generasi muda.

MPR Akan Terus Kembangkan Program Nobar Maira

Sementara itu, MPR RI berkomitmen melanjutkan kegiatan nonton bareng film Maira di berbagai daerah. Langkah tersebut menjadi bagian dari pengembangan metode Sosialisasi Empat Pilar yang lebih efektif.

Di sisi lain, Lestari menilai tantangan lingkungan yang terjadi saat ini akan menjadi persoalan yang dihadapi generasi muda di masa depan. Karena itu, pemahaman mengenai kebangsaan dan keberlanjutan lingkungan perlu berjalan beriringan.

Ia menegaskan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga masa depan bangsa sekaligus kelestarian bumi sebagai ruang hidup bersama.

Generasi muda tidak cukup hanya memahami Empat Pilar sebagai konsep normatif. Mereka perlu melihat bagaimana nilai-nilai tersebut hadir dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.