Bahasa Kita – Starbucks kembali melakukan pemutusan hubungan kerja atau PHK sebagai bagian dari strategi restrukturisasi perusahaan. Raksasa kopi asal Amerika Serikat itu mengumumkan pemangkasan 300 pekerjaan korporasi di AS serta rencana penutupan sejumlah kantor pendukung regional.
Perusahaan menegaskan langkah tersebut tidak berdampak pada karyawan gerai kopi atau barista. PHK hanya menyasar pekerja nonritel yang berada di bagian operasional dan fungsi pendukung perusahaan.
Dalam pernyataan resminya, Starbucks menyebut restrukturisasi dilakukan untuk memperkuat strategi “Back to Starbucks” yang saat ini dijalankan perusahaan di bawah kepemimpinan CEO Brian Niccol.
“Kami mengambil langkah lanjutan dalam strategi Back to Starbucks untuk mengembalikan perusahaan pada pertumbuhan yang berkelanjutan dan menguntungkan,” kata juru bicara Starbucks.
Starbucks Kembali Pangkas Pekerja Nonritel
PHK terbaru ini menjadi gelombang ketiga sejak Brian Niccol memimpin Starbucks. Sebelumnya pada Februari 2025, perusahaan memangkas 1.100 pekerjaan dan membatalkan pengisian ratusan posisi kosong.
Tujuh bulan kemudian, Starbucks kembali mengumumkan pengurangan 900 pekerja nonritel sebagai bagian dari rencana restrukturisasi senilai US$ 1 miliar.
Secara faktual, Starbucks memiliki sekitar 9.000 pekerja nonritel di AS dan 5.000 pegawai internasional di divisi operasional regional hingga September 2025.
Yang jadi sorotan, restrukturisasi terbaru ini juga mencakup evaluasi terhadap tenaga kerja korporasi internasional perusahaan.
Di sisi lain, Starbucks memperkirakan langkah restrukturisasi tersebut akan menimbulkan biaya hingga US$ 400 juta atau sekitar Rp6,5 triliun.
Perusahaan mengungkapkan sebagian besar biaya restrukturisasi berasal dari evaluasi aset kantor dan pesangon karyawan terdampak PHK.
Starbucks memperkirakan akan mencatat biaya non-tunai sebesar US$ 280 juta terkait penurunan nilai aset jangka panjang. Sementara itu, sekitar US$ 120 juta dialokasikan untuk pembayaran pesangon dan biaya pemutusan kerja.
Dalam konteks tersebut, langkah efisiensi dinilai menjadi bagian dari upaya Starbucks memperbaiki struktur bisnis setelah menghadapi tekanan penjualan dalam beberapa tahun terakhir.
Sebelumnya, bisnis Starbucks sempat tertekan akibat meningkatnya persaingan dan perubahan perilaku konsumen yang lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang.
Akibatnya, permintaan terhadap produk minuman Starbucks sempat mengalami penurunan, terutama di pasar Amerika Serikat.
Meski melakukan restrukturisasi besar, Starbucks mengklaim strategi bisnis baru mulai menunjukkan hasil positif. Di bawah kepemimpinan Brian Niccol, perusahaan melakukan sejumlah perubahan operasional di gerai kopi.
Starbucks mulai memperbaiki layanan kafe, menambah menu baru, menghadirkan kembali area duduk pelanggan, serta memperkuat jumlah pekerja di gerai kopi.
Pada laporan kuartal terbaru, Starbucks mencatat penjualan toko sejenis di AS tumbuh 7,1 persen. Pertumbuhan tersebut didorong kenaikan transaksi pelanggan sebesar 4,3 persen.
Yang menarik, capaian itu menjadi kuartal kedua berturut-turut dengan pertumbuhan trafik pelanggan di gerai Starbucks AS.
“Kuartal ini menjadi tonggak penting bagi Starbucks dan titik balik dari proses pemulihan perusahaan,” ujar Brian Niccol dalam video laporan kinerja perusahaan pada April lalu.
