bahasakita.id – Banjir Sumatera pada akhir November 2025 tak berhenti pada perdebatan tudingan, melainkan dibedah melalui pendekatan forensik berbasis data Cuaca Ekstrem. Center for Analysis and Applying Geospatial Information (CENAGO) ITB menyusun analisis presipitasi, hidrologi tiga DAS, hingga simulasi hidrologi-hidrolika untuk menjawab satu pertanyaan mendasar: apa akar peristiwanya?
Secara faktual, hujan tercatat 150 hingga lebih dari 300 milimeter per hari akibat Siklon Tropis Senyar. Skala ini melampaui kapasitas desain sistem pengendalian banjir yang berlaku.
Kerangka Forensik Berbasis Presipitasi dan DAS
CENAGO tidak berhenti pada pembacaan citra satelit. Tim menggabungkan data presipitasi dari BMKG dan NOAA Amerika Serikat, digital elevation model, serta parameter hidrologi-hidrolika standar.
Pendekatan ini menempatkan tiga daerah aliran sungai sebagai unit analisis: Badiri, Garoga, dan Batang Toru. Dalam kerangka itu, pola aliran, kemiringan lereng, dan karakter geomorfologi diperhitungkan secara terukur.
Koordinator tim riset, Heri Andreas, menyebut model probabilitas menunjukkan kejadian tersebut masuk kategori R700 hingga R1000. Artinya, peristiwa itu memiliki siklus ulang ratusan tahun.
“Model probabilitas kami menunjukkan ini masuk kategori R700 hingga R1000, yang artinya siklus kejadian sekali dalam 700 hingga 1.000 tahun. Angka ini melampaui standar mitigasi banjir yang umumnya dirancang hingga R50,” kata Heri, Jumat (20/2/2026).
Pada titik ini, Banjir Sumatera diposisikan sebagai peristiwa dengan skala presipitasi di luar desain perencanaan normal.
Simulasi dan Pengujian Skenario
Untuk menguji hipotesis, CENAGO menjalankan simulasi hidrologi-hidrolika dalam berbagai skenario. Termasuk skenario seluruh wilayah DAS berupa hutan serta skenario dengan keberadaan tambang.
Hasilnya menunjukkan kontribusi perubahan tutupan lahan relatif kecil dibanding lonjakan akibat Cuaca Ekstrem. PT AR tercatat berkontribusi 0,32 persen terhadap banjir dengan tambahan runoff 0,71 persen. PT TBS berkontribusi 1,7 persen dengan tambahan runoff 0,06 persen. PT NSHE tercatat 0,05 persen dan 0,01 persen.
Analisis perubahan tutupan lahan juga menunjukkan porsi alih fungsi terhadap luas DAS relatif kecil: sekitar 1,6 persen untuk PT AR, 0,4 persen untuk PT TBS, dan 0,02 persen untuk PT NSHE.
“Jika secara kuantitatif kontribusi perubahan tutupan lahan yang dituduhkan relatif kecil, maka penetapan pertanggungjawaban mutlak perlu ditinjau kembali demi objektivitas,” ujar Heri.
Pembahasan ini mengemuka dalam Focus Group Discussion di Jakarta, 18 Februari 2026, yang dihadiri perwakilan kementerian, lembaga, dan organisasi profesi.
Dengan kata lain, pendekatan forensik ilmiah menempatkan data sebagai dasar penilaian. Dalam konteks tersebut, Cuaca Ekstrem menjadi variabel dominan dalam membaca Banjir Sumatera.
