bahasakita.id – Operasi Ketupat Lebaran 2026 disiapkan untuk mengelola mobilitas masyarakat yang diperkirakan mencapai 143,9 juta perjalanan selama periode Idulfitri. Angka tersebut menggambarkan fenomena sosial tahunan ketika jutaan orang bergerak dari berbagai kota menuju kampung halaman dalam waktu yang relatif singkat.
Data kepolisian menunjukkan pergerakan mudik tahun ini sedikit menurun dibanding realisasi 2025 yang mencapai 146,4 juta orang. Meski turun tipis, skala mobilitas tetap sangat besar dan membutuhkan pengelolaan lalu lintas serta keamanan secara terpadu.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyebut negara harus mengantisipasi arus besar tersebut melalui Operasi Ketupat Lebaran 2026 yang berlangsung selama 13 hari, mulai 13 hingga 25 Maret.
“Masyarakat diimbau untuk mengatur waktu perjalanan guna menghindari penumpukan kendaraan,” ujar Sigit.
Di balik angka mobilitas itu terdapat satu pertanyaan penting: bagaimana negara mengelola perpindahan manusia dalam jumlah sangat besar tanpa menimbulkan gangguan besar pada sistem transportasi nasional.
Mobilitas Lebaran sebagai Fenomena Sosial Nasional
Mudik bukan sekadar perjalanan pulang kampung. Dalam praktiknya, mobilitas Lebaran membentuk pergerakan massal yang memengaruhi jalan raya, pelabuhan, stasiun, hingga bandara.
Setiap tahun jutaan masyarakat meninggalkan kota tempat bekerja menuju daerah asal dalam rentang waktu beberapa hari menjelang Idulfitri.
Fenomena ini menciptakan lonjakan arus kendaraan di jalur utama, antrean panjang di pelabuhan penyeberangan, serta kepadatan di berbagai moda transportasi publik.
Di sisi lain, momentum tersebut juga menimbulkan kebutuhan pengaturan yang lebih kompleks dibanding mobilitas harian biasa.
Irjen Pol Agus Suryonugroho menjelaskan bahwa arus mudik bukan sekadar persoalan lalu lintas.
“Operasi Ketupat ini bukan hanya soal lalu lintas atau perjalanan mudik dan balik, tetapi juga memastikan momentum sosial dan spiritual Ramadan hingga Idulfitri berjalan aman,” ujarnya.
Negara Mengatur Arus melalui Operasi Terpadu
Untuk mengelola mobilitas tersebut, pemerintah mengerahkan Operasi Ketupat Lebaran 2026 yang melibatkan 161.243 personel gabungan dari Polri, TNI, serta berbagai kementerian dan lembaga.
Operasi ini tidak hanya menempatkan petugas di jalan raya, tetapi juga membangun sistem pengawasan yang terintegrasi di berbagai simpul transportasi.
Sebanyak 2.746 pos disiapkan di berbagai wilayah. Pos tersebut terdiri dari 1.624 pos pengamanan, 779 pos pelayanan, serta 343 pos terpadu.
Pos-pos ini berfungsi sebagai pusat informasi sekaligus layanan bagi masyarakat selama periode mudik.
Selain itu, aparat juga melakukan pengamanan terhadap lebih dari 185 ribu objek yang diperkirakan ramai selama libur Lebaran.
Objek tersebut mencakup masjid, lokasi salat Idulfitri, tempat wisata, pusat perbelanjaan, terminal, stasiun kereta api, pelabuhan, hingga bandara.
Pola Pergerakan Arus Mudik dan Arus Balik
Berdasarkan prediksi pemerintah, puncak arus mudik akan terjadi dalam dua gelombang.
Gelombang pertama diperkirakan berlangsung pada 14–15 Maret 2026, sementara gelombang kedua terjadi pada 18–19 Maret 2026.
Sementara itu, arus balik diprediksi muncul pada 24–25 Maret serta 28–29 Maret 2026.
Pola dua gelombang ini menunjukkan bahwa mobilitas Lebaran tidak berlangsung dalam satu waktu yang seragam, melainkan menyebar dalam beberapa hari.
Bagi aparat dan pengelola transportasi, pola tersebut menjadi dasar dalam merancang pengaturan lalu lintas selama Operasi Ketupat Lebaran 2026.
