Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir

Haedar Nashir Apresiasi Ridho Al Hamdi, Soroti Regenerasi Akademik

Bahasa Kita – Ridho Al Hamdi resmi dikukuhkan sebagai guru besar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada 16 April 2026. Momen ini tidak hanya menjadi capaian personal, tetapi juga memunculkan sorotan terkait regenerasi akademik di lingkungan Muhammadiyah.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir yang hadir dalam acara tersebut memberikan apresiasi sekaligus dorongan kepada kader lain untuk mengikuti jejak serupa.

Momentum Guru Besar Jadi Sorotan Regenerasi

Dalam sambutannya, Haedar menilai capaian Ridho Al Hamdi sebagai contoh penting bagi kader Muhammadiyah. Ia menegaskan bahwa usia 40 tahun untuk meraih guru besar merupakan prestasi.

Saya ucapkan tahniah, selamat Guru Besar Profesor Ridho Al Hamdi,” ujar Haedar.

Yang kerap luput diperhatikan, Haedar mengungkap bahwa ia telah mengikuti perjalanan Ridho sejak masa Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Hal ini menunjukkan kesinambungan kaderisasi dalam organisasi.

Bahasa Kita
Ridho Al Hamdi dikukuhkan sebagai guru besar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada 16 April 2026

Pada saat yang sama, kehadiran sejumlah tokoh Muhammadiyah seperti Agung Danarto, Busyro Muqoddas, dan Syamsul Anwar memperlihatkan perhatian kolektif terhadap capaian ini.

UMY Dinilai Konsisten Tambah Guru Besar

Haedar juga memberikan apresiasi khusus kepada Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Ia menilai kampus tersebut konsisten dalam meningkatkan jumlah guru besar.

Menurutnya, penambahan profesor menjadi salah satu indikator penting perguruan tinggi unggul. Artinya, kualitas akademik tidak hanya diukur dari jumlah mahasiswa atau program studi.

Ia kemudian mendorong Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah lainnya untuk mengikuti langkah serupa. Dalam praktiknya, peningkatan jumlah guru besar menjadi bagian dari penguatan institusi.

Dorongan untuk Kader Muhammadiyah Lain

Di sisi lain, Haedar menilai masih banyak kader Muhammadiyah yang layak menjadi guru besar. Namun kesempatan belum sepenuhnya terbuka.

Ia mendorong agar para akademisi terus mempersiapkan diri. Menurutnya, capaian tersebut tidak hanya soal individu, tetapi juga kontribusi bagi organisasi.

Dengan kata lain, regenerasi akademik menjadi kebutuhan strategis dalam jangka panjang.

Orasi Ilmiah Jadi Penegasan Arah Kajian

Sementara itu, Ridho Al Hamdi dalam orasi ilmiahnya mengangkat tema tentang disfungsi partai politik di kawasan Selatan Global.

Ia menjelaskan konsep Dis(mal)fungsi sebagai gabungan dari disfungsi dan malfungsi dalam sistem kepartaian. Fenomena ini disebut terjadi di banyak negara berkembang.

Dua kata itu bisa terjadi secara terpisah, tetapi bisa terjadi bersamaan,” katanya.

Dalam konteks tersebut, ia memilih menggunakan istilah Global South sebagai kerangka analisis. Istilah ini dinilai lebih relevan untuk menggambarkan kondisi negara-negara berkembang.

Yang patut dicatat, orasi tersebut tidak hanya membahas Indonesia, tetapi juga menempatkannya dalam tren global yang lebih luas.