doa lintas agama

Doa Lintas Agama Siswa Sekolah Rakyat untuk Prajurit TNI Gugur

Bahasa Kita – Doa lintas agama yang dipimpin siswa Sekolah Rakyat menjadi simbol solidaritas kemanusiaan dalam mengenang tiga prajurit TNI yang gugur saat menjalankan misi perdamaian PBB di Lebanon. Lima siswa dari wilayah Jabodetabek tampil bergantian memimpin doa dalam acara yang digelar Kementerian Sosial di Gedung Aneka Bhakti, Senin (6/4/2026).

Kehadiran para siswa dalam prosesi ini menandai peran generasi muda dalam menyuarakan nilai kemanusiaan lintas keyakinan. Mereka tidak hanya menjadi peserta, tetapi mengambil posisi sentral sebagai pemimpin doa dari berbagai agama.

Bagaimana Siswa Memimpin Doa Lintas Agama?

Prosesi dimulai saat Saepul Majid membuka rangkaian dengan doa menurut ajaran Islam. Ia mendoakan para prajurit yang gugur, sekaligus menyerukan perdamaian dunia dan berakhirnya konflik.

Semoga mereka diterima di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,”

Setelah itu, doa dilanjutkan secara berurutan oleh siswa lain dari latar belakang agama berbeda. Marcel Apriliano Ferdinand membacakan doa Katolik, disusul Fransiskus Manuel Manalu dari Kristen.

Pada saat yang sama, Lovelyne P. A. Luntungan mewakili umat Buddha, dan Gusti Agung Radja Putra Arya Wiratama membacakan doa Hindu. Masing-masing menyampaikan harapan serupa tentang kedamaian dan penghormatan bagi para prajurit.

Dalam praktiknya, susunan ini memperlihatkan keterlibatan aktif siswa dalam menghidupkan nilai toleransi. Mereka tidak sekadar hadir, tetapi menyuarakan doa yang mencerminkan keyakinan masing-masing.

Apa Makna Simbolik Keterlibatan Siswa?

Yang jadi sorotan, posisi siswa sebagai pemimpin doa menghadirkan pesan kuat tentang solidaritas lintas agama sejak usia dini. Acara ini tidak hanya berfungsi sebagai penghormatan, tetapi juga sebagai ruang ekspresi nilai kebersamaan.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan bahwa para prajurit yang gugur merupakan pahlawan kemanusiaan. Ia menyebut doa bersama ini menjadi bentuk penghormatan yang melibatkan banyak unsur, termasuk generasi muda.

Di sisi lain, suasana khidmat terasa saat seluruh peserta mengikuti rangkaian doa. Kegiatan berlanjut dengan pembacaan tahlil yang dipimpin Staf Khusus Menteri Ishaq Zubaedi.

Para pegawai Kemensos dan siswa mengikuti dengan penuh khusyuk. Momen ini memperlihatkan interaksi antara institusi negara dan siswa dalam satu ruang penghormatan bersama.

Yang kerap luput diperhatikan, keterlibatan siswa lintas agama dalam satu panggung menunjukkan integrasi nilai toleransi dalam praktik nyata, bukan sekadar wacana.

Siapa Prajurit yang Dikenang dalam Doa?

Doa lintas agama ini ditujukan untuk tiga prajurit TNI yang gugur dalam tugas di Lebanon. Mereka adalah Mayor Inf (Anm) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anm) Sertu Muhammad Nur Ikhwan, dan Kopda (Anm) Farizal Rhomadhon.

Ketiganya bertugas sebagai bagian dari pasukan perdamaian PBB. Gugurnya mereka terjadi pada akhir Maret 2026 saat menjalankan misi kemanusiaan.

Prosesi pemakaman telah dilaksanakan pada 4 April 2026 di tiga lokasi berbeda. Zulmi Aditya Iskandar dimakamkan di TMP Cikutra, Bandung. Muhammad Nur Ikhwan dimakamkan di TMP Giri Dharmolyo II, Magelang. Farizal Rhomadhon dimakamkan di TMP Giripeni, Kulon Progo.

Presiden Prabowo Subianto juga menyampaikan duka atas peristiwa tersebut. Ia menegaskan bahwa negara akan terus mengenang jasa para prajurit yang gugur dalam tugas menjaga perdamaian.

Keterlibatan siswa dalam doa lintas agama ini menjadi bagian dari rangkaian penghormatan yang lebih luas terhadap pengabdian para prajurit.