Bahasa Kita – Seorang santriwati Ponpes Zamzam Integrated Islamic School atau ZIIS Cilongok Banyumas meninggal dunia setelah terpeleset dan tenggelam di Curug Kanesia Baturraden, Selasa, 12 Juni 2026. Korban diketahui bernama Anindita, warga Majenang, Cilacap.
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 09.00 WIB saat korban bersama sejumlah santri lainnya mendatangi Curug Kanesia untuk berfoto ketika memiliki waktu luang dari kegiatan hafiz Quran di Gedung Diklat Baturraden.
Yang jadi sorotan, korban dilaporkan terpeleset sebelum akhirnya tenggelam di area curug.
Kepala Unit Siaga SAR Banyumas Amin Riyanto mengatakan pihaknya menerima informasi kejadian tenggelam pada pagi hari dan langsung bergerak menuju lokasi.
“Anindita yang beralamatkan di Majenang, Cilacap semula ikut kegiatan hafiz Quran di Gedung Diklat Baturaden,” ujar Amin.
Dalam praktiknya, lokasi wisata air seperti curug memiliki risiko licin dan arus yang cukup berbahaya, terutama saat digunakan untuk aktivitas di area bebatuan.
Tim SAR Banyumas Lakukan Pencarian Korban di Curug Kanesia
Setelah menerima laporan, Kantor SAR Cilacap mengirimkan satu tim rescuer dari Unit Siaga SAR Banyumas dan Kantor SAR Cilacap menuju lokasi kejadian.
Tim pencarian dilengkapi dua set alat selam, alat penerangan, serta perangkat komunikasi untuk mendukung proses evakuasi korban.
Kepala Kantor SAR Cilacap M Abdullah mengatakan tim rescue tiba di lokasi pada pukul 10.08 WIB dan langsung melakukan koordinasi dengan unsur terkait.
“Tim rescue Unit Siaga SAR Banyumas tiba di lokasi kejadian melakukan koordinasi dengan stakeholder terkait dan melakukan assessment,” katanya.
Tak berhenti di situ, petugas kemudian menyusun rencana pencarian sebelum melakukan penyisiran di lokasi tenggelamnya korban.

Korban Curug Kanesia Ditemukan Kurang dari Dua Jam
Dalam perkembangan selanjutnya, korban berhasil ditemukan sekitar pukul 10.15 WIB atau kurang dari dua jam setelah dilaporkan tenggelam.
Korban kemudian dievakuasi menuju RSUD Prof Margono Soekardjo pada pukul 10.18 WIB.
Yang kerap luput diperhatikan, proses pencarian di kawasan wisata air memerlukan penanganan cepat karena kondisi arus dan medan bebatuan dapat memperumit evakuasi.
Dengan ditemukannya korban, operasi pencarian dan pertolongan resmi ditutup oleh tim SAR.
“Dengan diketemukannya korban, maka Operasi Pencarian dan Pertolongan ditutup,” ujar Abdullah.
Aktivitas Wisata Curug Berisiko Saat Area Bebatuan Licin
Peristiwa di Curug Kanesia kembali menyoroti risiko keselamatan di kawasan wisata air terbuka, khususnya pada area bebatuan yang licin.
Di sisi lain, aktivitas berfoto di sekitar curug kerap menjadi perhatian karena banyak pengunjung mendekati area berbahaya demi mendapatkan sudut gambar tertentu.
Dalam konteks tersebut, kawasan air terjun memerlukan kewaspadaan tinggi, terutama bagi pengunjung yang tidak memahami kondisi medan.
Dampaknya terasa karena kecelakaan di lokasi wisata alam sering terjadi dalam waktu singkat ketika pengunjung kehilangan pijakan di area basah dan licin.
