Bahasa Kita – Minat masyarakat terhadap Sekolah Program Khusus di Kota Surakarta meningkat tajam pada tahun ajaran baru 2026. Hampir 500 calon peserta didik tercatat mendaftar untuk memperebutkan kuota yang hanya tersedia bagi 150 siswa.
Tingginya jumlah pendaftar membuat Dinas Pendidikan Kota Surakarta menerapkan proses seleksi yang lebih ketat dibanding sekolah reguler. Penilaian tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga kesiapan mental siswa dan dukungan keluarga.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Surakarta, Dwi Ariyatno, mengatakan sekolah program khusus dirancang dengan target capaian pendidikan yang lebih tinggi sehingga membutuhkan kesiapan yang berbeda.
Karena itu, proses seleksi dilakukan secara komprehensif agar siswa yang diterima benar-benar memiliki kemampuan akademik dan daya tahan belajar yang sesuai.
Seleksi Sekolah Program Khusus Fokus Nilai Akademik
Dinas Pendidikan Surakarta menempatkan nilai ujian atau Tes Kompetensi Akademik sebagai instrumen utama dalam proses seleksi calon peserta didik.
Dalam praktiknya, hasil TKA akan menjadi dasar untuk memetakan kemampuan akademik siswa sebelum memasuki tahap berikutnya.
Menurut Dwi Ariyatno, sekolah program khusus membutuhkan siswa dengan kapasitas belajar tinggi karena pola pembelajaran yang diterapkan lebih intensif.
“Target capaiannya kan tinggi, harus ada semacam komitmen dari peserta seleksi termasuk orang tua untuk diukur kemampuan daya tahan mereka karena upayanya harus lebih ekstra,” ujar Dwi Ariyatno.
Selain kemampuan akademik, peserta juga akan mengikuti uji psikologi. Tahapan ini digunakan untuk mengukur ketahanan mental siswa dalam menghadapi beban belajar yang lebih berat.
Yang jadi sorotan, Dinas Pendidikan tidak hanya menilai kesiapan siswa, tetapi juga keterlibatan orang tua dalam mendukung proses pendidikan.
Dukungan keluarga dinilai menjadi faktor penting karena sistem pembelajaran di sekolah program khusus menuntut konsistensi belajar di luar jam sekolah.
Dalam konteks tersebut, lingkungan rumah dianggap memiliki pengaruh besar terhadap kemampuan siswa menjaga performa akademik.
Kuota Sekolah Program Khusus Utamakan Warga Solo
Terkait sebaran pendaftar, Dinas Pendidikan memastikan calon siswa dari luar Kota Solo tetap mendapatkan kesempatan mengikuti seleksi.
Namun pada kenyataannya, kuota untuk pendaftar luar kota dibatasi hanya lima persen dari total kapasitas yang tersedia.
Kebijakan itu dilakukan karena prioritas utama tetap diberikan kepada warga Kota Surakarta dengan standar nilai yang tetap kompetitif.
Dwi Ariyatno menjelaskan, pembatasan kuota tersebut juga berkaitan dengan target kualitas lulusan yang ingin dicapai pemerintah daerah.
“Diberikan kesempatan tapi jumlahnya memang tidak banyak, karena kita berharap yang masuk adalah anak dengan potensi akademik istimewa agar bisa berdaya saing internasional,” kata Dwi menambahkan.
Target Sekolah Program Khusus di Kota Surakarta
Pemerintah Kota Surakarta menargetkan sekolah program khusus mampu melahirkan generasi dengan daya saing nasional hingga internasional.
Artinya, proses seleksi yang ketat sejak awal dipandang sebagai bagian dari investasi kualitas sumber daya manusia di Kota Bengawan.
Pada sisi yang sama, sekolah program khusus juga diproyeksikan menjadi model pendidikan dengan capaian akademik yang lebih terukur.
Dinas Pendidikan berharap siswa yang lolos nantinya mampu menunjukkan prestasi dalam berbagai bidang akademik maupun kompetisi pendidikan.
Dengan kata lain, sekolah program khusus tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga menjadi ruang pembinaan siswa berpotensi tinggi yang dipersiapkan menghadapi persaingan global.
