bahasakita.id — Peredaran surat Syuriyah PBNU bertanggal 20 November 2025 membuka babak baru dialektika internal NU. Dokumen yang ditandatangani KH Miftachul Akhyar itu mendesak KH Yahya Cholil Staquf mundur dalam tiga hari. Fenomena ini bukan sekadar administrasi organisasi, melainkan peristiwa budaya dalam tubuh perkumpulan keagamaan terbesar di Indonesia.
Rapat Harian Syuriyah, dihadiri 37 dari 53 pengurus, mencatat kegelisahan terhadap pemilihan narasumber Akademi Kepemimpinan Nasional NU, yang dinilai memiliki keterkaitan dengan jaringan Zionisme Internasional. Dalam sejarah panjang NU, sensitivitas terhadap afiliasi ideologis eksternal selalu memengaruhi tafsir identitas organisasi.
Poin kedua, pemberhentian seorang fungsionaris, memperlihatkan dinamika bagaimana NU mengelola disiplin kelembagaan melalui Peraturan Perkumpulan. Setiap tindakan dinilai mencerminkan martabat ormas.
Poin ketiga menyentuh dugaan pelanggaran tata kelola keuangan. Frasa “membahayakan eksistensi Badan Hukum NU” dalam risalah memberikan bobot serius pada pertimbangan etis dan struktural organisasi.
Seorang pengurus PBNU membenarkan dokumen tersebut. “Iya benar. Tadi malam,” ujarnya (21/11).
Di Ancol, Yahya menampik isu pemakzulan. “Enggak ada bahasan itu,” katanya, seraya menyebut pertemuan dengan Wakil Rais Aam berfokus pada rencana tapak tilas KHR As’ad Syamsul Arifin—sebuah rujukan tokoh kunci dalam tradisi pesantren. (*)
