Bahasa Kita – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sejumlah wilayah di Indonesia masih berpotensi mengalami cuaca ekstrem berupa hujan lebat hingga sangat lebat serta angin kencang dalam sepekan ke depan. Kondisi ini terjadi meskipun sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.
BMKG menjelaskan bahwa berbagai dinamika atmosfer masih mendukung pembentukan awan hujan di sejumlah daerah. Akibatnya, potensi cuaca ekstrem tetap perlu diwaspadai selama periode 5 hingga 11 Juni.
Selain hujan dengan intensitas tinggi, beberapa wilayah juga diprakirakan menghadapi risiko angin kencang yang dapat memengaruhi aktivitas masyarakat.
El Niño Masih Terpantau di Samudra Pasifik
Berdasarkan analisis iklim terbaru, BMKG mencatat kondisi El Niño masih terpantau di Samudra Pasifik. Indeks Niño 3.4 berada pada angka +0,69 sementara Southern Oscillation Index (SOI) tercatat sebesar -16,0.
Secara umum, kondisi tersebut biasanya berkontribusi terhadap berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Meski begitu, BMKG menegaskan bahwa faktor atmosfer regional masih mampu memicu pertumbuhan awan hujan dalam beberapa hari ke depan.
“Meskipun demikian, dinamika atmosfer skala regional masih berpotensi mendukung pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah,” tulis BMKG dalam laporan prakiraan cuaca mingguan.
Gelombang Atmosfer Masih Aktif
Dalam sepekan mendatang, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) diperkirakan bergerak pada fase 7 hingga fase 8. Kondisi ini dinilai tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap sebagian besar wilayah Indonesia.
Namun, pengaruh konvektif MJO masih diprakirakan aktif di Papua bagian tengah hingga timur.
Selain itu, gelombang Kelvin diprediksi aktif di sebagian besar wilayah Indonesia. Sementara itu, Gelombang Rossby Ekuatorial diperkirakan aktif di wilayah Sumatra bagian utara.
Yang perlu digarisbawahi, kombinasi berbagai fenomena atmosfer tersebut dapat meningkatkan peluang terbentuknya hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat.
Potensi Sirkulasi Siklonik dan Labilitas Atmosfer
BMKG juga memantau potensi terbentuknya sirkulasi siklonik di Samudra Pasifik bagian utara Papua. Sistem ini berpotensi membentuk daerah konvergensi yang memanjang dari Papua Pegunungan hingga Papua Tengah.
Di sisi lain, kondisi labilitas atmosfer yang kuat diprakirakan terjadi di sejumlah wilayah seperti Aceh, Kepulauan Bangka Belitung, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.
Dalam praktiknya, kondisi atmosfer yang labil dapat mempercepat proses pembentukan awan konvektif yang berpotensi memicu hujan deras disertai petir.
Wilayah yang Perlu Waspada
Pada periode 5 hingga 7 Juni, BMKG memprakirakan hujan lebat hingga sangat lebat berpotensi terjadi di Maluku, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.
Sementara itu, potensi angin kencang diperkirakan melanda Aceh, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat Daya, dan Papua Tengah.
Untuk periode 8 hingga 11 Juni, hujan sangat lebat berpotensi terjadi di Papua Pegunungan. Adapun potensi angin kencang diprakirakan terjadi di Aceh, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Papua Barat, Papua Barat Daya, dan Papua Selatan.
