Bahasa Kita – SPMB Semarang 2026 untuk jenjang TK, SD, dan SMP resmi dimulai pada Senin (8/6/2026). Pada pelaksanaan tahun ajaran 2026/2027 ini, Pemerintah Kota Semarang menghadirkan perubahan besar dengan memasukkan sekolah swasta gratis ke dalam sistem penerimaan murid baru secara online.
Langkah tersebut menjadi sorotan karena sekolah swasta gratis kini ikut terintegrasi dalam Sistem Penerimaan Murid Baru atau SPMB. Selain itu, pemerintah menyiapkan tambahan daya tampung hingga sekitar 6.000 kursi untuk siswa dari keluarga tidak mampu.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Muhammad Ahsan, mengatakan perubahan itu menjadi salah satu kebijakan utama dalam pelaksanaan SPMB tahun ini.
“Yang paling mencolok di tahun ini kami menyertakan sekolah-sekolah swasta gratis. TK swasta gratis, SD swasta gratis, dan SMP swasta gratis kami integrasikan di dalam SPMB online,” ujarnya, Minggu (7/6/2026).
Sekolah Swasta Gratis Masuk SPMB Online
Masuknya sekolah swasta gratis ke dalam sistem online dilakukan untuk memperkuat jalur afirmasi. Dalam praktiknya, pemerintah ingin memperluas akses pendidikan bagi anak dari keluarga kurang mampu.
Selain itu, kebijakan tersebut juga bertujuan menambah kapasitas penerimaan siswa baru di Kota Semarang. Dengan kata lain, sekolah swasta gratis menjadi alternatif tambahan tanpa mengurangi kuota di sekolah negeri.
Menurut Ahsan, total tambahan daya tampung dari sekolah swasta gratis mencapai lebih dari 6.000 kursi.
“Daya tampung sekolah swasta gratis itu sekitar 6.000 sekian. Dan itu memang dikhususkan untuk anak dari keluarga tidak mampu,” katanya.
Yang jadi sorotan, seluruh proses penerimaan sekolah swasta gratis tetap masuk dalam sistem SPMB online. Karena itu, calon peserta didik bisa mengakses pilihan sekolah negeri maupun swasta gratis dalam satu sistem.
Kuota Jalur Domisili Tetap Aman

Pemerintah Kota Semarang memastikan penambahan jalur afirmasi melalui sekolah swasta gratis tidak mengganggu kuota jalur lainnya.
Secara faktual, kuota jalur domisili, prestasi, dan mutasi di sekolah negeri tetap menggunakan porsi yang sama seperti tahun sebelumnya.
“Dengan model seperti ini, maka kuota untuk jalur domisili, jalur prestasi, jalur mutasi itu tidak akan berkurang,” tegas Ahsan.
Kebijakan tersebut dinilai penting karena selama ini jalur afirmasi sering memengaruhi distribusi kuota di sekolah negeri. Namun, pada SPMB Semarang 2026, pemerintah memilih menambah kapasitas baru lewat sekolah swasta gratis.
Akibatnya, distribusi kuota penerimaan tetap berjalan normal tanpa pengurangan pada jalur utama.
Persentase Jalur Domisili Masih Sama
Dinas Pendidikan Kota Semarang juga memastikan persentase jalur domisili tidak mengalami perubahan untuk SPMB 2026.
Pada jenjang TK Negeri dan SD Negeri, kuota jalur domisili tetap sebesar 70 persen. Sementara itu, untuk SMP Negeri, kuota domisili masih berada di angka 40 persen.
“Persentasenya masih sama. Untuk TK Negeri domisili 70 persen, SD 70 persen, dan SMP 40 persen,” tandasnya.
Dalam konteks tersebut, pemerintah ingin menjaga keseimbangan antara akses pendidikan berbasis wilayah dan pemerataan kesempatan belajar.
Tak hanya itu, integrasi sekolah swasta gratis ke dalam SPMB online juga diharapkan mampu mengurangi persoalan keterbatasan kursi sekolah negeri setiap tahun ajaran baru.
Yang perlu digarisbawahi, kebijakan ini berlaku untuk penerimaan murid baru tahun ajaran 2026/2027 di seluruh jenjang TK, SD, dan SMP di Kota Semarang.
Daya Tampung Pendidikan Bertambah
Dengan tambahan sekitar 6.000 kursi dari sekolah swasta gratis, kapasitas pendidikan di Daerah Kota Semarang bertambah cukup signifikan.
Di sisi lain, langkah tersebut memberi ruang lebih besar bagi keluarga kurang mampu untuk mendapatkan akses pendidikan tanpa biaya.
Pada saat yang sama, sekolah negeri tetap mempertahankan pola seleksi sesuai jalur yang sudah berjalan sebelumnya.
Karena itu, pelaksanaan SPMB Semarang 2026 menjadi salah satu perubahan besar dalam sistem penerimaan siswa baru di Kota Semarang.
