Vasco RuseimyWakil Gubernur Sumatera Barat, Vasco Ruseimy

Bahasa Kita – Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasco Ruseimy, merespons pernyataan kontroversial pegiat media sosial Permadi Arya alias Abu Janda yang mengaitkan masyarakat Sumatera Barat dengan perilaku barbar.

Menurut Vasco, tudingan tersebut muncul dari sudut pandang yang keliru dan tidak memahami nilai budaya masyarakat Minangkabau.

Respons itu disampaikan Vasco melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @vasco_ruseimy.

Dalam unggahannya, politikus Partai Gerindra tersebut memilih menanggapi polemik dengan santai.

Jadi kalau ditanya ke saya, menanggapi orang seperti ini ya cukup senyum saja, maksimal ketawain deh, tapi cukup di dalam hati,” kata Vasco.

Vasco Sindir Balik Pernyataan Permadi Arya

Vasco menilai penilaian terhadap Sumatera Barat sebagai daerah barbar sangat tidak tepat. Ia menyebut Sumbar memiliki akar adat, budaya, dan nilai agama yang kuat.

Di sisi lain, Vasco justru menyindir balik pihak yang melontarkan tudingan tersebut.

Menurutnya, cara seseorang melihat suatu daerah bisa dipengaruhi sudut pandang pribadi.

Kadang yang melihat segala sesuatu tampak barbar bukan karena objeknya, tapi karena kacamatanya yang sedang miring dan retak. Apalagi sampai berpikir Sumbar barbar. Menurutmu, apanya yang miring dan retak?” ujar Vasco.

Yang jadi sorotan, Vasco meminta masyarakat Sumbar tidak terpancing emosi dalam menghadapi polemik tersebut.

Ia mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak memberi panggung lebih besar kepada pihak yang dianggap sengaja memancing kontroversi di media sosial.

Dalam praktiknya, Vasco menilai respons berlebihan justru akan membuat polemik semakin meluas.

Vasco Sebut Sumbar Punya Sejarah Besar

Vasco menegaskan bahwa masyarakat Minangkabau memiliki sejarah panjang dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Menurutnya, banyak tokoh nasional, pemikir, dan pemimpin lahir dari Sumatera Barat.

Karena itu, ia menilai pelabelan barbar terhadap masyarakat Sumbar sangat menyederhanakan realitas budaya yang ada.

Pernyataan yang menyebut Sumatera Barat sebagai barbar tentu bukan hanya keliru, tapi juga menyederhanakan sebuah peradaban yang dibangun dari nilai, adat, dan sejarah panjang,” ujar Vasco.

Tak berhenti di situ, Vasco juga mengingatkan soal falsafah hidup masyarakat Minang yang selama ini dijunjung tinggi.

Falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah disebut menjadi dasar kehidupan sosial masyarakat Minangkabau.

Dalam konteks tersebut, masyarakat Minang diajarkan untuk menjaga sopan santun, menghormati aturan, dan mampu beradaptasi di mana pun berada.

Permadi Arya Dinilai Abaikan Nilai Masyarakat Minang

Menurut Vasco, kekuatan masyarakat Sumbar bukan terletak pada sikap keras atau merasa paling benar.

Namun pada kenyataannya, masyarakat Minang dikenal menjaga adat sambil tetap terbuka terhadap siapa saja.

Vasco mengatakan masyarakat Sumbar tetap hangat menerima orang yang datang dengan niat baik.

Ia juga menilai kehormatan daerah tidak ditentukan oleh komentar negatif pihak lain.

Pada saat bersamaan, Vasco menegaskan martabat masyarakat justru terlihat dari cara mereka menyikapi provokasi.

Kalau ada yang menilai tanpa memahami, biarlah. Tidak semua ucapan harus dibalas panjang, tidak semua provokasi layak dijadikan perang. Kadang cukup dengan menunjukkan siapa kita sebenarnya,” pungkas Vasco.

Secara garis besar, Vasco berharap masyarakat Sumbar tetap menjaga ketenangan dan tidak terpecah akibat polemik di media sosial.

Hal ini terlihat dari ajakannya agar warga lebih mengedepankan sikap dewasa dibanding memperpanjang perdebatan di ruang digital.