Dubes Rusia di Jakarta mengungkap lima poin utama yang menjadi syarat kesepakatan damai Ukraina. Rusia juga menegaskan kesiapannya melanjutkan dialog dan perundingan dengan Kiev.
Rusia kembali menyatakan kesiapannya untuk mencapai kesepakatan damai dengan Ukraina setelah konflik yang berlangsung sejak 2022.
Pernyataan tersebut disampaikan Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergey Tolchenov, dalam arahan pers di Jakarta, Rabu.
Menurut Tolchenov, Moskow sejak awal telah membuka peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dan negosiasi.
Ia menegaskan Rusia tidak menutup pintu bagi berbagai bentuk dialog yang dapat mengarah pada perdamaian jangka panjang.
Rusia Klaim Sudah Capai Kesepakatan pada 2022
Tolchenov menjelaskan bahwa pada 2022, tim negosiasi Rusia dan Ukraina sempat mencapai sejumlah kesepakatan penting.
Menurutnya, hasil perundingan tersebut tinggal menunggu proses penandatanganan resmi dari kedua pihak.
Namun, proses itu tidak berlanjut karena situasi politik dan dinamika internasional yang berkembang saat itu.
Yang jadi sorotan, Rusia menilai peluang perdamaian sebenarnya sudah terbuka sejak awal konflik berlangsung.
Karena itu, Moskow menyatakan siap melanjutkan pembahasan berdasarkan hasil negosiasi yang pernah dicapai sebelumnya.
Putin Disebut Siap Bertemu Zelenskyy
Selain membuka ruang negosiasi, Rusia juga menyampaikan kesiapan melakukan pertemuan tingkat tinggi antara pemimpin kedua negara.
Tolchenov menyebut Presiden Vladimir Putin siap bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy apabila terdapat kesepakatan untuk melaksanakan pertemuan tersebut.
Dalam konteks tersebut, Rusia menilai komunikasi langsung antara pemimpin kedua negara bukan menjadi hambatan utama dalam proses perdamaian.
Fokus utama saat ini justru berada pada substansi kesepakatan yang akan dibahas oleh kedua pihak.
Lima Syarat Utama Rusia untuk Kesepakatan Damai
Menurut Tolchenov, Rusia menginginkan perjanjian damai yang bersifat komprehensif, berjangka panjang, dan berkelanjutan.
Secara faktual, terdapat sejumlah poin yang dianggap penting oleh Moskow dalam proses perundingan.
- Tidak adanya pangkalan NATO di wilayah Ukraina.
- Status Ukraina sebagai negara non-nuklir.
- Status Ukraina sebagai negara non-blok.
- Perlindungan hak-hak minoritas nasional, termasuk warga berbahasa Rusia.
- Pengakuan terhadap isu wilayah yang menurut Rusia telah memiliki status jelas.
Selain itu, Rusia menilai berbagai aspek tersebut harus masuk dalam dokumen resmi kesepakatan damai.
Persoalan Wilayah Tetap Menjadi Bagian Penting
Tolchenov juga menyinggung sejumlah wilayah yang dianggap memiliki posisi strategis dalam pembahasan perdamaian.
Wilayah tersebut meliputi Krimea, Kherson, Donetsk, Lugansk, dan Zaporozhye.
Menurutnya, persoalan wilayah menjadi salah satu isu yang perlu mendapat kejelasan dalam perjanjian antara Rusia dan Ukraina.
Yang menarik, Rusia menilai pembahasan mengenai wilayah tidak dapat dipisahkan dari upaya menciptakan stabilitas jangka panjang.
Rusia Nilai Proses Perdamaian Masih Menghadapi Tantangan
Meski menyatakan kesiapan berdialog, Tolchenov mengakui proses menuju kesepakatan damai masih menghadapi berbagai tantangan.
Salah satunya berkaitan dengan situasi politik dan dukungan internasional terhadap Ukraina yang terus berkembang.
Namun, Rusia menegaskan tetap membuka ruang komunikasi dan siap melanjutkan diskusi dalam format apa pun.
Menurut Tolchenov, tujuan utama Moskow adalah mencapai kesepakatan yang mampu memberikan kepastian dan stabilitas bagi kedua negara dalam jangka panjang.
