Bahasa Kita – Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengusulkan pertemuan langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin guna mencari jalan keluar perang Ukraina. Usulan tersebut menjadi langkah baru setelah konflik berlangsung lebih dari empat tahun.
Zelenskyy menyampaikan tawaran itu melalui surat terbuka kepada Putin. Dalam surat tersebut, ia menegaskan perdamaian hanya dapat tercapai melalui dialog langsung antara Ukraina dan Rusia.
Selain itu, Zelenskyy juga meminta gencatan senjata penuh selama proses negosiasi berlangsung. Namun, Kremlin menolak usulan tersebut dan tetap mempertahankan target militernya di Ukraina.
Zelenskyy Dorong Dialog Langsung dengan Putin
Melansir BBC News, Sabtu, 6 Juni 2026, Zelenskyy menilai upaya perdamaian tidak boleh menunggu perhatian Amerika Serikat kembali fokus ke perang di Eropa.
Menurutnya, situasi global saat ini membuat Washington lebih banyak memperhatikan perkembangan konflik di Iran. Karena itu, Ukraina ingin terus membuka peluang diplomasi secara langsung.
Dalam suratnya, Zelenskyy kembali mengundang Putin untuk bertemu di negara netral seperti Swiss atau Turki. Ia berharap pertemuan tersebut dapat membuka jalan menuju penghentian perang.
“Perdamaian hanya dapat dicapai melalui dialog langsung antara Ukraina dan Rusia,” tulis Zelenskyy dalam surat terbukanya.
Sementara itu, Kremlin mengonfirmasi telah menerima surat tersebut. Bahkan, pemerintah Rusia menyatakan Zelenskyy dipersilakan bertemu Putin di Moskow.
Putin Tolak Pertemuan Tatap Muka dengan Zelenskyy
Meski menerima surat tersebut, Putin menolak tawaran pertemuan langsung dengan Zelenskyy. Ia menyampaikan sikap itu saat menghadiri Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg.
Melansir The Guardian, Sabtu, 6 Juni 2026, Putin mengaku belum melihat manfaat dari dialog tatap muka dengan pemimpin Ukraina tersebut.
Selain itu, Putin juga menyebut surat Zelenskyy sebagai surat yang tidak sopan. Dalam konteks tersebut, Kremlin tetap mempertahankan tuntutan politik dan militer terhadap Ukraina.
Putin menegaskan Rusia akan terus mencapai seluruh target operasi militernya. Salah satu fokus utama Moskow yakni penguasaan penuh wilayah Donbas.
Ia juga mengklaim pasukan Rusia telah menguasai seluruh wilayah Luhansk. Sementara itu, lebih dari 85 persen wilayah Donetsk disebut sudah berada di bawah kendali Rusia.
Rusia Tetap Tuntut Wilayah Ukraina
Selain Donbas, Putin juga meminta Ukraina menyerahkan wilayah Kherson dan Zaporizhzhia. Menurutnya, syarat tersebut diperlukan untuk menciptakan perdamaian jangka panjang.
Namun, Zelenskyy menilai penolakan Kremlin menunjukkan Rusia belum memiliki keinginan mengakhiri perang. Ia mengatakan Moskow kembali memilih jalur konflik dibandingkan diplomasi.
Di sisi lain, Ukraina terus meningkatkan serangan terhadap target strategis Rusia. Yang jadi sorotan, kebuntuan diplomatik justru memicu eskalasi konflik di lapangan.
Zelenskyy juga menyoroti penderitaan rakyat Ukraina akibat perang berkepanjangan. Selain itu, ia menyebut masyarakat Rusia mulai merasakan dampak ekonomi dan keamanan dari konflik tersebut.
Trump dan Macron Dukung Pertemuan Putin-Zelenskyy
Tawaran perdamaian Zelenskyy mendapat dukungan dari sejumlah negara Barat. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyambut baik kemungkinan pertemuan kedua pemimpin tersebut.
Menurut Trump, dialog langsung dapat membantu membuka peluang mengakhiri perang. Selain itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron juga mendukung gagasan pertemuan itu.
Sementara itu, Zelenskyy dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Inggris Keir Starmer di London. Ia juga akan berdiskusi dengan Kanselir Jerman Friedrich Merz terkait langkah lanjutan menuju perdamaian.
Dalam forum ekonomi di Saint Petersburg, Putin tetap membela kondisi ekonomi Rusia dari kritik Barat. Ia menegaskan Rusia masih mampu bertahan di tengah tekanan sanksi internasional.
