Panda Bond menjadi strategi baru pemerintah untuk memperluas sumber pembiayaan negara sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Kementerian Keuangan menilai langkah ini dapat membantu menjaga stabilitas APBN ketika nilai tukar dolar mengalami penguatan.
Panda Bond segera menjadi salah satu instrumen pembiayaan baru pemerintah. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkapkan penerbitan surat utang berdenominasi yuan tersebut merupakan bagian dari strategi diversifikasi pembiayaan negara.
Melalui kebijakan tersebut, pemerintah berharap tidak lagi bergantung pada satu mata uang dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan. Langkah ini sekaligus menjadi upaya mengurangi dampak fluktuasi dolar AS terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Plt. Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kementerian Keuangan, Herman Saheruddin, menjelaskan Panda Bond dipilih untuk membuka sumber pendanaan baru dari pasar internasional.
Diversifikasi Pembiayaan Jadi Alasan Utama
Menurut Herman, penerbitan Panda Bond bukan sekadar mencari investor baru. Pemerintah juga ingin menyebarkan risiko pembiayaan agar tidak terlalu terpengaruh perubahan nilai tukar dolar AS.
Ia mengatakan diversifikasi tersebut diharapkan mampu mengurangi beban APBN ketika dolar mengalami penguatan yang signifikan.
“Alasan penerbitan Panda Bond ya untuk mencari sumber pembiayaan yang lain atau dapat dikatakan diversifikasi. Jadi dengan adanya diversifikasi ini, harapannya adalah risiko beban APBN kita dari pembiayaan utang yang bersumber dari risiko nilai tukar itu dapat didiversifikasi, dan kita bisa mengurangi dampak dari ketergantungan dolar AS,”
Selain itu, Herman menilai strategi tersebut akan membuat tekanan terhadap APBN tidak sebesar ketika pemerintah hanya mengandalkan pembiayaan berbasis dolar AS.
China Dipilih karena Dinilai Memiliki Permintaan Tinggi
Kementerian Keuangan melihat China sebagai salah satu negara yang memiliki potensi besar mendukung diversifikasi pembiayaan Indonesia.
Menurut Herman, investor di China masih menunjukkan minat membeli surat utang Indonesia dengan tingkat imbal hasil yang dinilai sesuai kondisi fundamental ekonomi nasional.
“China itu adalah salah satu dari beberapa negara yang tertarik untuk melakukan pembiayaan ke Indonesia dengan membeli surat utang kita dengan pricing yang make sense, artinya tidak jauh dari fundamental kita,”
Karena itu, pemerintah menilai penerbitan Panda Bond dapat memperluas basis investor sekaligus menciptakan alternatif pembiayaan yang lebih beragam.
Penguatan Dolar Jadi Pertimbangan Pemerintah
Di sisi lain, Herman menegaskan diversifikasi mata uang menjadi penting agar APBN tidak terlalu rentan terhadap pergerakan dolar AS.
Menurutnya, ketergantungan yang terlalu besar terhadap dolar berpotensi meningkatkan tekanan terhadap pembiayaan negara ketika nilai tukar mengalami lonjakan.
“Sekarang kita melakukan diversifikasi. Kalau kita terlalu banyak tergantung dari dolar AS, saya pikir akan menjadi kurang stabil, APBN akan terus tekor jika kita hanya mengandalkan dolar AS,”
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menegaskan Panda Bond merupakan bagian penting dari strategi diversifikasi surat utang pemerintah. Menurutnya, langkah tersebut bertujuan memperkuat stabilitas rupiah sekaligus memperluas sumber pembiayaan negara.
Purbaya juga menjelaskan pemerintah tengah mempertimbangkan penggunaan skema Local Currency Transaction (LCT). Melalui mekanisme itu, transaksi dapat menggunakan yuan tanpa perlu konversi ke dolar AS sehingga risiko akibat fluktuasi mata uang Amerika Serikat dapat ditekan.
