Nilai tukar rupiah ke dollar ASRupiah menguat ke Rp17.945 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat. Namun, sentimen domestik membuat rupiah masih melemah 0,22%

Rupiah menguat ke Rp17.945 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (3/7/2026). Meski berhasil menghentikan tren pelemahan harian, rupiah tetap mencatat kinerja negatif secara mingguan akibat tekanan sentimen domestik.

Rupiah menguat ke level Rp17.945 per dolar AS pada penutupan perdagangan terakhir pekan ini. Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda terapresiasi 0,24% pada Jumat (3/7/2026) sehingga berhasil mengakhiri tren pelemahan selama tiga hari berturut-turut.

Namun, penguatan tersebut belum cukup mengangkat performa rupiah sepanjang pekan. Secara point-to-point, nilai tukar rupiah masih melemah 0,22% terhadap dolar Amerika Serikat.

Dengan demikian, tekanan terhadap mata uang domestik masih belum sepenuhnya mereda. Posisi rupiah juga tetap berada dekat level psikologis Rp18.000 per dolar AS yang terus menjadi perhatian pelaku pasar.

Penguatan Harian Belum Mengubah Tren Mingguan Rupiah

Penguatan pada akhir pekan menjadi sinyal positif setelah rupiah mengalami tekanan dalam beberapa hari sebelumnya. Meski begitu, pergerakan tersebut belum mampu membalikkan kinerja mingguan yang masih berada di zona merah.

Di sisi lain, pasar masih mencermati sejumlah indikator ekonomi dalam negeri yang dirilis sepanjang awal pekan. Beberapa data tersebut memberikan sentimen yang kurang mendukung terhadap pergerakan rupiah.

Inflasi Indonesia kembali meningkat pada Juni 2026. Selain itu, neraca perdagangan mencatat defisit untuk pertama kalinya dalam enam tahun. Pada saat yang sama, aktivitas sektor manufaktur juga semakin tertekan setelah indeks PMI kembali berada lebih dalam di zona kontraksi.

Secara faktual, kombinasi sejumlah indikator tersebut membuat pelaku pasar tetap berhati-hati terhadap prospek ekonomi domestik. Akibatnya, penguatan rupiah pada perdagangan terakhir pekan belum mampu menghapus tekanan yang telah terbentuk sebelumnya.

Dolar AS Melemah, Rupiah Belum Mampu Memanfaatkan Momentum

Yang menarik, pelemahan rupiah justru terjadi ketika dolar Amerika Serikat mengalami tekanan di pasar global. Indeks dolar AS (DXY) tercatat turun 0,49% sepanjang pekan ke posisi 100,857.

Biasanya, pelemahan dolar menjadi katalis positif bagi mata uang negara berkembang, termasuk kawasan Asia. Namun, respons pasar kali ini tidak berlangsung seragam.

Dalam praktiknya, investor tidak hanya memperhatikan arah dolar AS, tetapi juga mempertimbangkan kondisi fundamental masing-masing negara. Karena itu, rupiah belum mampu memperoleh manfaat maksimal dari pelemahan mata uang Amerika Serikat.

Pergerakan mata uang asia
Pergerakan mata uang Asia pekan pertama juli 2026

Mata Uang Asia Bergerak Beragam Sepanjang Pekan

Pergerakan mata uang Asia menunjukkan hasil yang bervariasi. Enam mata uang berhasil menguat terhadap dolar AS, sedangkan empat lainnya masih mencatat pelemahan.

Baht Thailand menjadi mata uang dengan performa terbaik setelah menguat 0,54%. Selanjutnya, ringgit Malaysia naik 0,44%, disusul won Korea Selatan yang menguat 0,39%.

Selain itu, yuan China terapresiasi 0,27%, yen Jepang naik 0,22%, sedangkan dolar Singapura menguat 0,14% sepanjang pekan.

Sementara itu, dolar Taiwan menjadi mata uang Asia dengan pelemahan terdalam sebesar 0,25%. Rupiah berada di posisi berikutnya setelah melemah 0,22%, diikuti peso Filipina yang turun 0,21% dan dong Vietnam yang melemah 0,19%.

Sentimen Domestik Masih Menjadi Penentu

Pelemahan dolar AS dipicu oleh data tenaga kerja Amerika Serikat yang berada jauh di bawah ekspektasi pasar. Data non-farm payrolls menunjukkan penambahan hanya 57.000 lapangan kerja pada Juni 2026, lebih rendah dibandingkan proyeksi Reuters sebesar 110.000 pekerjaan.

Data tersebut mendorong pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat. Dampaknya, daya tarik dolar AS sebagai aset berbasis imbal hasil tinggi ikut berkurang.

Meski demikian, kondisi tersebut belum mampu mengangkat seluruh mata uang Asia. Dalam konteks Indonesia, sentimen domestik masih menjadi faktor utama yang membatasi ruang penguatan rupiah meskipun tekanan terhadap dolar AS mulai mereda.