Bahaya game online berlebihan menjadi perhatian Kementerian Kesehatan pada Hari Anak Nasional 2026. Orang tua diminta mendampingi penggunaan media digital agar kesehatan mental anak dan remaja tetap terjaga.
Bahaya game online berlebihan menjadi salah satu sorotan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) bertepatan dengan Hari Anak Nasional (HAN) 2026. Selain kesehatan fisik, orang tua juga diminta memberi perhatian lebih terhadap kesehatan mental anak dan remaja di tengah tingginya penggunaan media sosial serta perangkat digital.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, mengatakan paparan layar atau screen time yang tidak terkontrol berpotensi memicu berbagai gangguan psikologis. Menurutnya, penggunaan game online secara berlebihan dapat meningkatkan risiko adiksi digital, gangguan tidur, kecemasan, hingga depresi.
Secara faktual, data menunjukkan sekitar 8,05 persen pemain game menghabiskan waktu lebih dari empat jam setiap hari di depan layar. Durasi tersebut dinilai sudah mengkhawatirkan karena berpotensi mengganggu fungsi sosial maupun prestasi akademik anak.
Kemenkes Minta Orang Tua Dampingi Penggunaan Teknologi
Imran menjelaskan masa remaja merupakan fase pencarian jati diri yang diwarnai perubahan emosi. Di sisi lain, tekanan dari lingkungan pergaulan serta paparan konten digital dapat memicu perbandingan sosial sehingga remaja lebih mudah mengalami overthinking dan gangguan tidur.
Selain itu, hasil Survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan 34,9 persen remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan jiwa dalam satu tahun terakhir. Dari jumlah tersebut, sekitar 5,5 persen telah memenuhi kriteria gangguan mental klinis.
Karena itu, Kemenkes menegaskan solusi bukan melarang anak menggunakan teknologi sepenuhnya. Sebaliknya, orang tua perlu mendampingi, mengawasi, dan membatasi penggunaan media sosial maupun game online agar tetap sesuai kebutuhan dan usia anak.
Yang menjadi sorotan, pendekatan tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan pelarangan total. Dengan pendampingan yang konsisten, anak tetap dapat memanfaatkan teknologi tanpa mengabaikan kesehatan mental maupun aktivitas sosialnya.
Imran kembali menegaskan pentingnya keseimbangan dalam penggunaan teknologi. “Teknologi boleh membantu, tapi kesehatan jiwa yang menentukan masa depan.” tegasnya.
