La Nina

Membaca Iklim 2026: Normal, Tapi Tidak Tanpa Risiko

bahasakita.id – BMKG menilai iklim Indonesia pada 2026 cenderung normal. Pernyataan ini tidak berarti tanpa tantangan. Di balik angka dan grafik, terdapat dinamika laut–atmosfer yang perlu dibaca secara cermat, terutama La Niña lemah pada awal tahun.

Menurut Kepala BMKG, Climate Outlook 2026 disusun melalui kombinasi observasi global, pemodelan fisis, dan kecerdasan buatan. Tujuannya jelas: menyediakan rujukan perencanaan jangka menengah bagi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

Dinamika Samudra

Pengamatan November 2025 menunjukkan indeks ENSO -0,77 yang menandai La Niña lemah. BMKG memprediksi fase ini berlanjut hingga Februari 2026 sebelum beralih ke Netral pada Maret–Mei. Di Samudra Hindia, IOD diperkirakan Netral sepanjang tahun, mengurangi potensi ekstrem dari sisi barat Indonesia.

Pola Hujan dan Hari Kering

Sebagian besar wilayah—sekitar 94,7 persen—diproyeksikan menerima hujan tahunan kategori Normal. Wilayah basah utama mencakup Sumatra, Kalimantan, Sulawesi tengah–selatan, Maluku, dan Papua. Namun, Bali, NTB, dan NTT tetap perlu bersiap menghadapi hari tanpa hujan yang lebih panjang.

Suhu dan Anomali

Rata-rata suhu tahunan 2026 diperkirakan 25–29 derajat Celsius, dengan anomali positif 0,2–0,6 derajat dibanding periode 1991–2020. Anomali terendah diperkirakan Mei, tertinggi Juli.

Implikasi Nyata

Deputi Klimatologi BMKG menyebut La Niña lemah pada musim hujan dapat meningkatkan potensi banjir dan longsor. Pada sisi lain, kemarau menuntut antisipasi karhutla. BMKG juga mengingatkan risiko DBD akibat kombinasi hujan, suhu hangat, dan kelembapan.

Informasi iklim ini diharapkan dimanfaatkan untuk penyesuaian pola tanam, pengelolaan air, dan kesiapsiagaan kesehatan, dengan pembaruan data iklim secara berkala.***