Daerah

Gempa Gunungkidul Magnitudo 5,4 Guncang 14 Wilayah

Gempa Gunungkidul
Gempa Gunungkidul

Gempa Gunungkidul bermagnitudo 5,4 mengguncang perairan barat daya Gunungkidul, DIY, Selasa (27/10) pukul 21.43 WIB. BMKG memastikan gempa tidak berpotensi tsunami dan getarannya dirasakan di 14 wilayah.

Gempa Gunungkidul terjadi di laut pada Selasa (27/10/2026) pukul 21.43.13 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa bumi tektonik itu awalnya berkekuatan magnitudo 5,4, dengan pusat gempa berada sekitar 136 kilometer arah barat daya Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Berdasarkan informasi resmi BMKG, episenter gempa berada pada koordinat 9,20 derajat Lintang Selatan dan 110,39 derajat Bujur Timur. Pusat gempa berada di kedalaman 10 kilometer sehingga tergolong gempa dangkal.

BMKG menegaskan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Hasil pemodelan badan itu menunjukkan tidak ada ancaman gelombang laut terhadap wilayah pesisir DIY maupun daerah sekitarnya.

Getaran Terasa di 14 Wilayah

Getaran gempa Gunungkidul dilaporkan dirasakan di 14 wilayah. Laporan masyarakat yang dikumpulkan BMKG menunjukkan intensitas guncangan mencapai skala II MMI.

Di Daerah Istimewa Yogyakarta, getaran dirasakan warga Bantul, Sleman, dan Kulon Progo. Guncangan juga terasa di sejumlah kabupaten Jawa Tengah, antara lain Wonogiri, Sukoharjo, Klaten, dan Banjarnegara.

Wilayah Jawa Timur yang melaporkan guncangan meliputi Trenggalek, Nganjuk, Pacitan, Kediri, Ponorogo, Lumajang, dan Blitar. Jarak episenter yang cukup jauh dari daratan tidak menghalangi getaran terasa karena gempa tergolong dangkal.

Warga Pacitan mengaku merasakan guncangan hingga benda di dalam ruangan ikut bergetar. Salah satu warga Kecamatan Arjosari, Hamiyya Wildan Zaha, mengatakan gelas kopi di meja ikut berguncang saat kejadian.

“Gelas kopi saya di meja sampai bergetar. Padahal saya di lantai dua,” ungkap Hamiyya, seperti dikutip dari Times Indonesia.

BMKG Perbarui Magnitudo Menjadi 5,1

Dalam analisis lanjutan, BMKG memperbarui parameter gempa menjadi magnitudo 5,1. Pusat gempa pada hasil pemutakhiran berada pada koordinat 9,47 derajat Lintang Selatan dan 110,33 derajat Bujur Timur.

Episenter pada data terbaru berjarak sekitar 166 kilometer barat daya Gunungkidul. Kedalaman gempa tetap tercatat 10 kilometer di bawah permukaan laut.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menyampaikan hasil pemodelan menunjukkan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. Pernyataan itu disampaikan dalam informasi resmi BMKG pada Selasa malam.

“Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini TIDAK BERPOTENSI TSUNAMI,” kata Wijayanto dalam keterangan resmi BMKG.

BMKG menjelaskan data awal gempa masih dapat berubah seiring pemutakhiran analisis. Masyarakat diimbau mengikuti informasi resmi dari BMKG dan instansi penanggulangan bencana setempat.

Empat Gempa Susulan Terpantau

Setelah gempa utama, BMKG mencatat empat gempa susulan hingga pukul 22.20 WIB. Magnitudo gempa susulan terbesar mencapai 4,9.

Badan tersebut mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan. Warga diimbau tidak mudah percaya informasi yang belum terverifikasi dan memantau kanal resmi BMKG.

Masyarakat juga disarankan memeriksa kondisi bangunan setelah guncangan. Jika terdapat keretakan atau kerusakan, warga sebaiknya menghindari area tersebut dan melaporkannya kepada pemerintah daerah.

Belum Ada Laporan Kerusakan

Hingga Rabu (28/10/2026), belum ada laporan korban jiwa maupun kerusakan bangunan akibat gempa Gunungkidul. Pemantauan di Kota Yogyakarta juga belum menemukan kerusakan pada bangunan.

Kondisi tersebut sesuai dengan karakter gempa yang pusatnya berada jauh di laut. Meski getarannya terasa cukup luas, energi gempa yang sampai ke daratan relatif tidak menimbulkan kerusakan besar.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah di wilayah yang merasakan guncangan tetap diminta melakukan pendataan lapangan. Langkah itu penting untuk memastikan tidak ada dampak yang luput dari pemantauan awal.

Gempa Gunungkidul ini menjadi pengingat bagi warga pesisir selatan Jawa untuk selalu siap menghadapi aktivitas seismik. Kesiapan menghadapi gempa susulan, pemahaman jalur evakuasi, dan kepatuhan pada informasi resmi menjadi langkah utama menjaga keselamatan.