Penghitungan suara pemilu legislatif Israel yang digelar 27 Oktober 2026 masih berlangsung pada 28 Oktober. Hasil sementara menunjukkan blok Perdana Menteri Benjamin Netanyahu unggul tipis namun belum mencapai mayoritas 61 kursi di Knesset. Situasi ini berpotensi mendorong pergeseran kebijakan diplomatik sejumlah negara mitra Indonesia di kawasan Timur Tengah dan global.
Komite Pemilu Pusat Israel merilis data sementara dengan sekitar separuh surat suara terhitung. Blok pro-Netanyahu diproyeksikan memperoleh 55 hingga 57 kursi, sementara blok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot berada di kisaran 49 hingga 51 kursi. Partai-partai Arab diperkirakan meraih 15 hingga 16 kursi dan dapat menjadi penentu dalam pembentukan koalisi. Tingkat partisipasi pemilih mencapai 77,7 persen, angka tertinggi sejak 1999.
Ketidakpastian hasil pemilu Israel ini berlangsung hampir bersamaan dengan pemilu sela Amerika Serikat yang dijadwalkan 3 November 2026. Kedua peristiwa politik itu berlangsung di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah. Indonesia sebagai negara yang menerapkan politik luar negeri bebas aktif memantau perkembangan tersebut karena dampaknya dapat memengaruhi arah kebijakan mitra-mitra diplomatiknya.
Ketidakpastian Hasil dan Dampak Terhadap Palestina
Analis menilai siapa pun yang memimpin pemerintahan Israel berikutnya, perubahan mendasar terhadap kebijakan terkait Palestina masih terbatas. Baik Netanyahu maupun Eisenkot dikenal menolak pembentukan negara Palestina secara penuh. Namun, perbedaan pendekatan dalam penanganan konflik di Gaza dan Tepi Barat tetap mungkin terjadi.
Dosen Pascasarjana Universitas Indonesia Asra Virgianita menyatakan, Kalau Netanyahu menang, enggak ada perubahan sama sekali, malah mungkin akan semakin agresif karena merasa ada dukungan publik. Ia menambahkan bahwa kekalahan Netanyahu membuka peluang perbaikan terbatas, meski solusi dua negara tetap sulit dicapai.
Pakar Hukum Internasional Hikmahanto Juwana dari Universitas Indonesia menekankan pentingnya pemantauan terhadap dinamika internal Israel. Hasil pemilu dapat memengaruhi kelanjutan tekanan militer terhadap Iran dan stabilitas kawasan. Indonesia yang konsisten mendukung kemerdekaan Palestina perlu menyesuaikan strategi diplomasi agar tetap efektif.
Pergeseran Kebijakan Mitra dan Posisi Indonesia
Beberapa negara mitra Indonesia di Timur Tengah dan Eropa tengah menyesuaikan posisi diplomatik mereka seiring perubahan peta politik Israel. Dukungan terhadap solusi dua negara tetap menjadi titik temu, tetapi intensitas kerja sama ekonomi dan keamanan dapat berubah. Indonesia memanfaatkan prinsip bebas aktif untuk menjaga komunikasi dengan semua pihak tanpa terikat blok tertentu.
Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir sebelumnya menegaskan bahwa diplomasi Indonesia tetap berpijak pada kepentingan nasional dan amanat konstitusi. Ia menekankan bahwa hasil diplomasi harus memberikan manfaat konkret bagi rakyat. Dalam konteks pemilu di luar negeri, Kementerian Luar Negeri terus memperkuat koordinasi dengan perwakilan di kawasan untuk mengantisipasi pergeseran kebijakan mitra.
Keanggotaan Indonesia di BRICS dan upaya pencalonan sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB periode 2029-2030 menjadi bagian dari strategi jangka panjang. Pergeseran arah kebijakan mitra akibat pemilu Israel dan AS dapat memengaruhi dukungan terhadap agenda Indonesia di forum multilateral, termasuk isu Palestina dan stabilitas kawasan.
Antisipasi Diplomasi Bebas Aktif
Pemerintah Indonesia memandang dinamika pemilu luar negeri sebagai bagian dari ketidakpastian global yang harus dihadapi dengan fleksibilitas. Hubungan bilateral dengan negara-negara di Timur Tengah tetap dijaga melalui dialog strategis. Kerja sama di bidang ekonomi, energi, dan kemanusiaan terus digalakkan agar tidak terganggu oleh perubahan politik internal mitra.
Pengamat hubungan internasional menilai Indonesia memiliki ruang gerak yang cukup luas. Pendekatan multi-alignment selektif memungkinkan Jakarta menjalin kemitraan dengan berbagai pihak tanpa mengorbankan prinsip dasar. Dukungan terhadap rekonstruksi Gaza dan bantuan kemanusiaan tetap menjadi prioritas, terlepas dari siapa yang memimpin Israel.
Hasil akhir penghitungan suara Israel diharapkan keluar dalam beberapa hari ke depan. Proses pembentukan koalisi dapat memakan waktu berminggu-minggu. Sementara itu, pemilu sela AS akan menentukan komposisi Kongres yang memengaruhi kebijakan luar negeri Washington. Kombinasi kedua peristiwa itu berpotensi menciptakan gelombang penyesuaian kebijakan diplomatik di tingkat regional dan global.
Indonesia akan terus memantau perkembangan tersebut secara cermat. Diplomasi yang konsisten dan berbasis kepentingan nasional menjadi kunci untuk menjaga posisi strategis di tengah pergeseran politik mitra-mitra utamanya.