Dampak penggunaan AI berlebihan menjadi perhatian para ahli seiring meningkatnya pemanfaatan kecerdasan artifisial dalam kehidupan sehari-hari. Menurut seorang konsultan neurologi, ketergantungan terhadap AI berpotensi mengurangi kemampuan otak dalam berpikir, mengingat, dan memecahkan masalah secara mandiri.
Dampak penggunaan AI berlebihan dinilai tidak hanya mengubah cara seseorang bekerja, tetapi juga memengaruhi fungsi kognitif otak. Kemudahan memperoleh jawaban secara instan membuat sebagian orang semakin jarang melatih kemampuan berpikir kritis maupun daya ingat.
Konsultan Senior Neurologi di Dharamshila Narayana Hospital, Delhi, Dr. MS Panduranga, mengatakan penggunaan kecerdasan artifisial yang terlalu sering dapat mengurangi upaya mental seseorang ketika menghadapi berbagai persoalan.
Menurutnya, ketika AI terus digunakan untuk mengingat informasi, bernalar, maupun menyelesaikan masalah, otak akan terbiasa menyerahkan tugas-tugas tersebut kepada teknologi. Dalam jangka panjang, kondisi itu dapat mengubah cara otak memproses serta menyimpan informasi.
AI Mengambil Alih Lebih Banyak Fungsi Kognitif
Secara faktual, manusia telah lama memanfaatkan teknologi untuk membantu pekerjaan mental. Kalkulator mempermudah perhitungan, GPS membantu navigasi, sedangkan mesin pencari menyediakan informasi dengan cepat.
Namun, Panduranga menilai AI memiliki kemampuan yang jauh lebih luas dibandingkan teknologi sebelumnya. Kecerdasan artifisial kini mampu menulis, menyusun ide, memberikan penalaran, hingga menghasilkan berbagai bentuk konten sesuai kebutuhan pengguna.
Akibatnya, semakin banyak proses berpikir yang berpotensi dialihkan kepada AI. Kondisi tersebut membuat otak kehilangan kesempatan untuk terus berlatih melalui aktivitas berpikir secara aktif.
Daya Ingat dan Kreativitas Berpotensi Menurun
Selain memengaruhi kemampuan bernalar, penggunaan AI secara berlebihan juga dinilai dapat mengurangi spontanitas dalam menghasilkan ide. Seseorang cenderung langsung meminta bantuan AI tanpa lebih dulu mencoba mengingat atau mencari solusi secara mandiri.
Dalam konteks tersebut, otak kehilangan kesempatan untuk memperkuat daya ingat maupun membangun pola pemecahan masalah. Semakin sering hal itu terjadi, semakin sedikit pula latihan yang diterima fungsi kognitif.
Tak hanya itu, kebiasaan memperoleh jawaban secara instan membuat perhatian lebih mudah terpecah. Menurut Panduranga, pikiran akhirnya terbiasa mengharapkan respons cepat dibandingkan mempertahankan fokus dalam waktu yang lebih lama.
AI Sebaiknya Menjadi Alat Pendukung
Meski mengingatkan adanya risiko, Panduranga tidak menyarankan masyarakat menghentikan penggunaan AI. Sebaliknya, ia menilai teknologi tersebut tetap memberikan manfaat apabila dimanfaatkan secara proporsional.
Ia menyarankan pengguna mencoba menjawab pertanyaan atau menyelesaikan persoalan secara mandiri terlebih dahulu. Setelah itu, AI dapat dimanfaatkan untuk memeriksa, mengevaluasi, atau menyempurnakan hasil pemikiran yang telah dibuat.
Pendekatan tersebut dinilai mampu menjaga keseimbangan antara kemudahan yang ditawarkan teknologi dengan kebutuhan otak untuk terus berlatih. Dengan demikian, AI tetap berfungsi sebagai alat pendukung pembelajaran dan kreativitas, bukan menggantikan kemampuan berpikir manusia.
