Ekbis

Rupiah Tertekan, Peluang Suku Bunga Bank Indonesia Naik

suku bunga Bank Indonesia
suku bunga Bank Indonesia

Bank Indonesia tidak menutup peluang menaikkan suku bunga Bank Indonesia untuk merespons tekanan rupiah. Keputusan akan bergantung pada data ekonomi dan perkembangan pasar keuangan pada 30 Oktober 2026.

JAKARTA — Nilai tukar rupiah dibuka melemah ke kisaran Rp18.133 per dolar AS pada Jumat, 30 Oktober 2026. Tekanan tersebut membuat Bank Indonesia (BI) menyatakan tidak menutup peluang menggunakan suku bunga sebagai salah satu instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan, arah kebijakan moneter akan ditentukan berdasarkan perkembangan data ekonomi. Ia menyebut pendekatan tersebut sebagai data dependent, yakni keputusan yang mengikuti kondisi terkini, bukan keputusan yang telah dipastikan sejak awal.

“Data dependent. Kami lihat perkembangannya seperti apa, karena kami punya kebijakan, kan banyak ya instrumennya, tidak hanya suku bunga aja,” kata Destry kepada wartawan di Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2026.

Suku Bunga Bank Indonesia Masih 5,75 Persen

Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur pada 20–21 Oktober 2026. Suku bunga fasilitas pinjaman tetap di level 6,50 persen, sedangkan suku bunga fasilitas simpanan naik 25 basis poin menjadi 5,00 persen.

Keputusan tersebut menunjukkan BI tetap berhati-hati. Bank sentral memperkuat daya tarik instrumen penampung dana, tetapi belum serta-merta menaikkan suku bunga acuan yang berdampak lebih luas pada biaya pinjaman.

Destry menjelaskan bahwa BI memiliki banyak instrumen untuk menjaga stabilitas moneter. Selain suku bunga, bank sentral dapat menggunakan intervensi pasar valuta asing, insentif aliran modal masuk, pengelolaan likuiditas, serta penguatan pasar keuangan.

Tekanan Rupiah dari Pasar Global

Tekanan terhadap rupiah muncul di tengah ketidakpastian pasar global. Eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat yang tetap ketat menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan dolar AS.

Pada perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026, rupiah sempat menguat 47 poin atau 0,26 persen ke level Rp18.137 per dolar AS. Posisi itu lebih baik dibanding penutupan sebelumnya di Rp18.184 per dolar AS, tetapi nilai tukar tetap berada pada wilayah yang rentan terhadap gejolak eksternal.

Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed, mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75–4,00 persen dalam rapat FOMC pada 28 Oktober 2026. Namun, sejumlah ekonom menilai keputusan itu belum cukup untuk menghilangkan risiko tekanan terhadap rupiah.

Dampak bagi Harga Impor dan Inflasi

Melemahnya rupiah membuat biaya impor barang menjadi lebih mahal. Kondisi ini dapat memengaruhi harga bahan bakar, bahan baku industri, pangan, serta barang elektronik yang sebagian komponennya masih diimpor.

Tekanan harga impor berpotensi menambah tekanan inflasi. Oleh sebab itu, BI perlu menyeimbangkan dua tujuan utama, yaitu menjaga nilai tukar rupiah dan memastikan inflasi tetap dalam kisaran sasaran 2,5 persen, dengan toleransi 1 persen, pada 2026–2027.

Bagi masyarakat, pelemahan rupiah tidak serta-merta menaikkan seluruh harga. Dampaknya bergantung pada porsi barang impor dalam konsumsi rumah tangga dan kemampuan pelaku usaha menyerap kenaikan biaya.

Pengaruh pada Cicilan dan Tabungan

Jika suku bunga Bank Indonesia dinaikkan, biaya dana perbankan berpotensi meningkat. Dalam jangka tertentu, kondisi itu dapat diteruskan ke bunga kredit, termasuk kredit modal kerja, kredit investasi, dan sebagian pinjaman konsumtif.

Di sisi lain, kenaikan suku bunga dapat menguntungkan penyimpan dana. Imbal hasil deposito, rekening tabungan tertentu, dan surat berharga negara berpotensi menjadi lebih menarik bagi investor.

Ekonom Kepala Bank Permata Josua Pardede menilai BI masih memiliki ruang untuk menaikkan BI Rate pada November atau Desember 2026. Ia memperkirakan skenario kenaikan 25 basis poin dapat membawa BI Rate ke level 6,00 persen pada akhir tahun.

“Menurut saya, skenario yang cukup realistis apabila BI menahan suku bunga pada Oktober adalah kenaikan sebesar 25 basis poin pada November atau Desember, sehingga BI-Rate mencapai 6,00 persen pada akhir tahun,” kata Josua.

Skenario Kebijakan Bank Indonesia

Peluang kenaikan suku bunga akan semakin besar apabila rupiah kembali tertekan secara berkelanjutan. Kondisi tersebut dapat diperparah bila investor asing melakukan penjualan bersih surat berharga negara, cadangan devisa menurun, atau ekspektasi inflasi meningkat.

Sebaliknya, BI berpeluang mempertahankan BI Rate bila rupiah mulai stabil, arus modal asing membaik, dan inflasi inti tetap terkendali. Dalam kondisi tersebut, bank sentral dapat lebih mengandalkan instrumen stabilisasi di luar kenaikan suku bunga.

Langkah BI pada Oktober menunjukkan pendekatan bertahap. Bank sentral memperkuat daya tarik fasilitas simpanan tanpa langsung menambah beban kredit secara luas, sehingga ruang kebijakan tetap terjaga.

Ke depan, pasar akan memantau pergerakan rupiah, arus dana asing, inflasi, serta keputusan The Fed. Perkembangan tersebut akan menentukan apakah suku bunga Bank Indonesia tetap di 5,75 persen atau naik pada pertemuan kebijakan berikutnya.