Ekbis

IHSG Melemah 0,80 Persen ke 5.057, Rupiah Ikut Tertekan

IHSG melemah
IHSG melemah

IHSG melemah 41,01 poin atau 0,80 persen ke level 5.057,05 pada penutupan perdagangan Jumat (30/10/2026) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Tekanan itu muncul karena aksi jual investor asing, ketidakpastian evaluasi MSCI, dan rupiah yang ditutup di Rp18.147 per dolar AS.

Koreksi pada Jumat itu menyambung penurunan tajam sehari sebelumnya. Pada Kamis (29/10/2026), indeks anjlok 3,49 persen dan berakhir di level sekitar 5.098. Dalam dua hari perdagangan, IHSG telah kehilangan sekitar 4,3 persen dari penutupan Rabu (28/10/2026) di level 5.282,31.

IHSG Melemah dan Sempat Menyentuh Level 4.979

Indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) itu bergerak fluktuatif sepanjang sesi. Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menyatakan indeks sempat turun hingga 4.979 sebelum berbalik. Menurut dia dalam analisisnya di Jakarta, IHSG akhirnya “ditutup di atas level psikologis 5.000”. Antara melaporkan analisis tersebut pada Jumat sore. Level psikologis adalah angka bulat yang sering menjadi acuan batas bawah oleh pelaku pasar.

Tekanan jual meluas ke mayoritas sektor. Data BEI yang dirangkum Okezone dan Infobanknews mencatat lebih dari 500 saham melemah, sedangkan kurang dari 200 saham menguat. Hanya sektor kesehatan dan keuangan yang mencatat penguatan, sementara bahan baku dan infrastruktur turun paling dalam. Indeks LQ45, yakni kelompok 45 saham unggulan, hanya terkoreksi 0,05 persen ke level 515,01, menurut Media Indonesia.

Rupiah Tertekan di Tengah Penguatan Mata Uang Asia

Di pasar spot, rupiah ditutup melemah 10 poin atau 0,06 persen ke Rp18.147 per dolar AS. Kontan mencatat posisi itu lebih rendah daripada penutupan Kamis (29/10/2026) di Rp18.137. Sebagian besar mata uang Asia justru menguat pada hari yang sama. Ringgit Malaysia naik 0,12 persen, yuan China 0,07 persen, dan rupee India 0,21 persen, menurut Bisnis.com.

Pada Rabu (28/10/2026), rupiah mencatat penutupan terlemah sepanjang sejarah di kisaran Rp18.183 per dolar AS, menurut Berita Moneter. Mata uang Garuda sempat menguat 47 poin ke Rp18.137 pada Kamis setelah The Fed menahan suku bunga. Namun, tekanan kembali muncul pada Jumat. Dalam sepekan, data Bloomberg menunjukkan rupiah spot terkoreksi 0,37 persen dari Rp18.080 pada Jumat (23/10/2026).

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp18.100–Rp18.200 per dolar AS pada Jumat. Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap mata uang utama lain, turun 0,22 persen ke 101,81 pada siang hari. Bisnis.com mengaitkan koreksi dolar tersebut dengan hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC), forum penentu suku bunga bank sentral AS.

Sentimen Domestik dan Keputusan The Fed Membayangi Pasar

Dari dalam negeri, ketidakpastian evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih menekan pasar saham. Pada 15 Oktober 2026, MSCI membuka konsultasi tentang usulan perubahan klasifikasi Indonesia dari pasar berkembang menjadi pasar mandiri (standalone market). Investortrust mencatat IHSG anjlok 11,57 persen pada 16 Oktober 2026 akibat kabar tersebut.

Tekanan jual investor asing belum reda. Pada Kamis (29/10/2026), investor asing mencatat penjualan bersih (net sell) sekitar Rp1,52 triliun menurut Katadata. Penjualan itu terkonsentrasi pada saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI. Analis Elandry kepada CNBC Indonesia menilai koreksi IHSG sebagai kombinasi arus modal keluar, tekanan rupiah, dan kenaikan premi risiko. Premi risiko adalah tambahan imbal hasil yang diminta investor untuk menanggung ketidakpastian.

BEI juga mengambil langkah untuk meredam gejolak. Kompas melaporkan bahwa BEI menurunkan batas penolakan otomatis atas dan bawah (ARA dan ARB) pada kelompok harga saham tertentu. Batas itu turun dari 15 persen menjadi maksimal 7 persen. ARA dan ARB membatasi kenaikan serta penurunan harga harian sebuah saham.

Faktor politik turut menambah ketidakpastian. Okezone mencatat aksi protes mahasiswa di sejumlah kota besar berlangsung sejak awal Oktober 2026. Analis Ibrahim menyatakan bahwa “stabilitas politik memiliki hubungan erat dengan kepercayaan investor dan kondisi perekonomian nasional”.

Dari luar negeri, The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75 persen hingga 4,00 persen dalam rapat 28 Oktober 2026. Voting berakhir 10 banding 2, karena Gubernur Lisa Cook dan Presiden Fed Cleveland Beth Hammack memilih kenaikan 25 basis poin. Satu basis poin setara 0,01 persen. Bisnis.com dan Vibiznews melaporkan keputusan itu menyusul kenaikan 25 basis poin pada 16 September.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengingatkan tekanan terhadap rupiah dan perekonomian domestik tetap tinggi. Dalam Rapat Pimpinan Nasional Kadin 2026 di Jakarta, Kamis (29/10/2026), ia menyebut dunia menghadapi situasi “higher for longer”. Istilah itu berarti suku bunga tinggi bertahan lama. BI mencatat inflasi AS masih di atas 3,5 persen, jauh dari target The Fed sebesar 2 persen.

Sebelumnya, pada 20–21 Oktober 2026, BI mempertahankan BI-Rate 5,75 persen dan menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 5,00 persen. Di Jepang, Bank Sentral Jepang (BOJ) juga menahan suku bunga acuan 1,25 persen pada pertemuan Jumat (30/10/2026), sesuai perkiraan pasar.

Proyeksi IHSG Pekan Depan dan Agenda Pasar

Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG menguji kisaran 4.900–5.000 pada pekan depan. Dalam risetnya, Phintraco menulis IHSG berpeluang “bergerak sideways” pada kisaran 5.000–5.200 jika bertahan di atas 5.000. Sideways berarti indeks bergerak mendatar tanpa arah naik atau turun yang tegas.

Pelaku pasar juga menanti pemilu paruh waktu (midterm election) Amerika Serikat pada 3 November 2026, menurut Suara.com. Selain itu, rapat Dewan Gubernur BI dijadwalkan pada 17–18 November 2026, menurut Berita Moneter. Analis Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp18.000–Rp18.320 per dolar AS pada pekan depan.

Ringkasan Pergerakan Pasar

Secara ringkas, IHSG melemah 0,80 persen ke 5.057,05 dan rupiah turun ke Rp18.147 per dolar AS pada Jumat (30/10/2026). Tekanan berasal dari arus keluar dana asing, ketidakpastian evaluasi MSCI, dan kebijakan suku bunga global yang tetap ketat. Arah pasar pada awal November bergantung pada kemampuan indeks bertahan di atas 5.000 dan perkembangan rapat bank sentral berikutnya. Data diperbarui per Sabtu (31/10/2026) dengan merujuk pada pemberitaan Antara, Bisnis.com, Kontan, CNBC Indonesia, dan data Bursa Efek Indonesia.