Ekbis

Inflasi Terkendali, Wamentan Sebut Stok Beras Indonesia Aman 10 Bulan

Inflasi
Inflasi

Inflasi Indonesia pada September 2026 tercatat 3,28 persen secara tahunan dan masih berada dalam kisaran sasaran. Pemerintah menyatakan stok beras nasional mencapai 4,5 juta ton pada Oktober 2026 sehingga aman untuk sepuluh bulan ke depan.

Jakarta, 1 November 2026 — Pemerintah menegaskan kondisi harga dan pasokan pangan nasional tetap terkendali menjelang pengumuman inflasi Oktober 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) September 2026 sebesar 3,28 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy), naik dari 3,19 persen pada Agustus 2026.

Angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi 2,5 persen ditambah atau dikurangi 1 persen. Bank Indonesia juga memperkirakan inflasi tetap terjaga dalam kisaran sasaran pada 2026 hingga 2027 melalui koordinasi kebijakan moneter dan pengendalian harga pangan.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Muhammad Saleh Mustafa menyampaikan kondisi tersebut saat menghadiri Rembuk Nasional Pemuda Indonesia ke-3 di Jakarta pada Sabtu, 31 Oktober 2026. Ia menyebut cadangan beras nasional mencapai 4,5 juta ton hingga Oktober 2026.

“Stok pangan nasional kita aman, dan alhamdulillah sampai dengan saat ini stok beras kita aman sampai sepuluh bulan ke depan. Ini capaian yang tertinggi. Cadangan beras kita sampai dengan Oktober 2026 adalah 4,5 juta ton,” kata Saleh.

Inflasi Masih Dalam Sasaran

Data BPS menunjukkan tekanan harga pada September 2026 terutama berasal dari kelompok pangan yang harganya berfluktuasi. Inflasi Volatile Food mencapai 5,03 persen secara tahunan, meningkat dari 4,06 persen pada Agustus 2026.

Sementara itu, inflasi inti atau core inflation justru melandai menjadi 2,84 persen secara tahunan dari 2,92 persen pada bulan sebelumnya. Kenaikan harga emas dan minyak goreng masih menjadi penyumbang utama inflasi inti, meskipun laju kenaikannya mulai melambat.

Kelompok harga yang diatur pemerintah atau administered prices tercatat 3,25 persen secara tahunan. Angka itu sedikit turun dari 3,32 persen pada Agustus 2026, terutama karena penurunan tarif angkutan udara pada musim sepi perjalanan.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan inflasi beras secara tahunan pada September 2026 berada di 3,73 persen. Tingkat tersebut dinilai paling stabil dibandingkan empat tahun terakhir karena dukungan cadangan beras pemerintah tanpa impor serta penyaluran beras kepada masyarakat.

Stok Beras Indonesia 4,5 Juta Ton

Kementerian Pertanian mencatat cadangan beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog mencapai 4,5 juta ton pada Oktober 2026. Dengan perkiraan kebutuhan konsumsi beras nasional sekitar 2,5 juta ton per bulan, persediaan tersebut dinilai cukup untuk sepuluh bulan ke depan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya menyebut ketersediaan beras nasional mencapai sekitar 25 juta ton. Jumlah itu mencakup tanaman padi yang masih berada di lahan atau standing crop sebesar 10 juta ton, persediaan pada sektor hotel, restoran, dan katering (horeka) sebesar 10 juta ton, serta stok Bulog sebesar 4,5 juta ton.

“Total 25 juta ton. Kebutuhan konsumsi per bulan 2,5 juta ton, berarti itu 10 bulan ke depan, sampai bulan Juli–Agustus aman,” ujar Amran pada 26 Oktober 2026.

Perum Bulog juga melaporkan pengadaan gabah dan beras dalam negeri mencapai 4.115.014 ton setara beras hingga 8 Oktober 2026. Realisasi tersebut setara 102,88 persen dari target penugasan pemerintah sebesar 4 juta ton.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan penyerapan gabah tetap dilakukan meskipun target pengadaan telah terlampaui. Langkah itu dimaksudkan untuk menjaga harga di tingkat petani sekaligus memperkuat cadangan beras pemerintah.

Penyaluran Beras Mendukung Stabilitas Harga

Bapanas mencatat realisasi penyaluran Cadangan Beras Pemerintah (CBP) melalui Perum Bulog mencapai 2,88 juta ton sejak Januari hingga 28 Oktober 2026. Sebanyak 1,63 juta ton di antaranya merupakan realisasi bantuan pangan beras.

Penyaluran tersebut mencakup program Bantuan Pangan dan Beras Seharga Harga Pemerintah (SPHP). Kedua program ini menjadi instrumen pemerintah untuk menjaga ketersediaan beras, membantu kelompok masyarakat rentan, serta menekan gejolak harga di pasar.

Wamentan mengakui masih terdapat ketimpangan antara persediaan di pasar dan permintaan masyarakat pada beberapa wilayah. Kondisi itu dapat memengaruhi harga beras meskipun stok di gudang pemerintah tergolong aman.

Untuk mengantisipasi perubahan musim, Kementerian Pertanian menyiapkan penambahan luas tanam pada November 2026 hingga Maret 2027. Langkah ini diarahkan untuk menjaga produksi padi dan memastikan pasokan beras tetap tersedia pada periode berikutnya.

Pemerintah juga menyiapkan pembangunan 100 gudang tambahan. Kebutuhan tersebut muncul karena kapasitas penyimpanan Bulog terbatas, sementara perusahaan masih perlu menyewa gudang tambahan dengan kapasitas sekitar 3 juta ton.

Pengumuman Inflasi Oktober 2026

BPS dijadwalkan mengumumkan data inflasi Oktober 2026 pada Senin, 2 November 2026. Konsensus pasar yang dikutip CNBC Indonesia memperkirakan IHK naik 0,24 persen secara bulanan dan 3,25 persen secara tahunan.

Jika proyeksi tersebut terwujud, laju inflasi tahunan Oktober akan sedikit melandai dibandingkan September yang mencapai 3,28 persen. Ketersediaan beras yang kuat dan penyaluran CBP menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas harga pangan.

Pemerintah menilai kombinasi cadangan beras yang tinggi, pengadaan dari petani lokal, serta penyaluran bantuan pangan dapat menopang daya beli masyarakat. Kondisi ini juga menjadi dasar keyakinan pemerintah bahwa tekanan inflasi pangan masih dapat dikendalikan hingga akhir 2026.