Kementerian Kesehatan mencatat akumulasi kasus infeksi saluran pernapasan akut akibat kabut asap karhutla mencapai 333.470 kasus hingga 21 Oktober 2026 di tujuh provinsi. Pemerintah memperkuat layanan kesehatan dan memobilisasi ribuan tenaga medis untuk melindungi kelompok rentan.
Data kumulatif kasus ISPA di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan terus diperbarui oleh Kementerian Kesehatan. Angka tersebut mencakup 68 kabupaten/kota di tujuh provinsi prioritas, yakni Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Riau, dan Jambi. Sebelumnya, pada 12 Oktober 2026, kasus tercatat 277.075. Lonjakan terjadi seiring intensitas kabut asap di musim kemarau.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Then Suyanti menjelaskan sebaran kasus. Saat ini kondisi ISPA di wilayah terdampak secara kumulatif mencapai 333.470 kasus. Adapun jumlah penderita ISPA berdasarkan data harian pada 21 Oktober 2026 sebanyak 4.522 orang. Dari total itu, 75.172 kasus menimpa anak usia 0-5 tahun, sementara 258.298 kasus dialami kelompok usia di atas lima tahun.
Respons Kemenkes dan Mobilisasi Tenaga Kesehatan
Pemerintah telah mengerahkan sumber daya untuk menekan dampak kesehatan. Hingga pertengahan Oktober, sebanyak 2.106 tenaga kesehatan dimobilisasi ke wilayah terdampak. Kemenkes juga menyiagakan 1.691 puskesmas, 360 rumah sakit rujukan, dan 87 laboratorium kesehatan masyarakat. Distribusi logistik mencakup jutaan masker, konsentrator oksigen, obat-obatan, serta alat pelindung diri.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman menekankan fokus pada kelompok rentan. Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 dan zat berbahaya yang memicu gangguan pernapasan. Bayi, balita, ibu hamil, lansia, serta penderita asma atau penyakit paru kronis memerlukan perlindungan ekstra. Masyarakat diimbau membatasi aktivitas luar ruangan saat kualitas udara memburuk dan segera mencari perawatan jika muncul sesak napas atau napas cepat.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mencatat tren positif. Kasus harian yang sempat mencapai 10.000 hingga 15.000 per hari pada awal September telah turun menjadi sekitar 3.000 kasus. Meski akumulasi masih tinggi, penurunan laju penambahan menunjukkan respons kesehatan mulai berjalan efektif. Pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara terus dilakukan di daerah prioritas.
Dampak pada Anak dan Edukasi Masyarakat
Balita menjadi kelompok paling terdampak secara proporsional. Paparan asap dapat memperburuk kondisi pernapasan yang masih berkembang. Orang tua diminta memantau gejala seperti batuk, sesak, atau kesulitan menyusu. Penggunaan nebulizer hanya dilakukan sesuai indikasi tenaga medis. Fasilitas rumah oksigen juga diaktifkan di sejumlah titik untuk membantu warga yang membutuhkan.
Selain ISPA, Kemenkes mencatat peningkatan penyakit lain di wilayah terdampak, seperti pneumonia, diare akut, iritasi mata dan kulit, serta influenza-like illness. Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan mencatat jumlah kasus tertinggi. Kualitas udara di beberapa kabupaten masih masuk kategori berbahaya atau sangat tidak sehat pada akhir Oktober, meski tren keseluruhan membaik.
Kemenkes bersama pemerintah daerah terus memperkuat sistem rujukan dan edukasi masyarakat. Penggunaan masker, menjaga kebersihan tangan, serta menghindari paparan asap menjadi langkah pencegahan utama. Data dipantau secara berkala melalui Pusat Operasi Kedaruratan Kesehatan untuk mendeteksi lonjakan baru. Hingga 31 Oktober 2026, upaya ini tetap menjadi prioritas nasional dalam penanganan dampak kesehatan karhutla.
Penurunan kasus harian memberi ruang optimisme, namun kewaspadaan tidak boleh longgar. Paparan kabut asap berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang pada sistem pernapasan. Kolaborasi antarinstansi dan partisipasi masyarakat menjadi kunci agar kasus ISPA tidak kembali melonjak saat musim kemarau berikutnya.