Presiden RI Prabowo SubiantoPresiden RI Prabowo Subianto: Ekonomi Indonesia Dinilai Tak Bisa Lepas dari Kekuatan Desa

Bahasa Kita – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai warga desa yang tidak memakai dolar memunculkan pembahasan baru tentang arah ekonomi Indonesia. Di tengah tekanan global dan gejolak rupiah, desa kembali disebut sebagai fondasi utama ketahanan nasional.

Orang di desa nggak pakai dolar, kok,” ujar Prabowo saat merespons kekhawatiran terhadap pelemahan rupiah. Kalimat itu kemudian dipahami sebagai kritik terhadap pandangan yang terlalu bergantung pada indikator ekonomi global.

Dalam bahasa sederhananya, Prabowo ingin menunjukkan bahwa denyut ekonomi Indonesia tidak hanya berada di pasar keuangan internasional. Aktivitas rakyat di desa juga menjadi penopang utama kehidupan nasional.

Desa Menjadi Penyangga Ekonomi Indonesia

Secara garis besar, desa memiliki pola ekonomi yang berbeda dibanding kota. Aktivitas masyarakat lebih bergantung pada sektor pangan, hasil pertanian, dan perdagangan lokal.

Yang menarik, sistem ekonomi desa cenderung bergerak berdasarkan kebutuhan sehari-hari. Warga mengandalkan hasil panen, pasar tradisional, dan hubungan sosial antarwarga.

Hal ini terlihat dari kemampuan desa bertahan dalam berbagai krisis. Ketika pandemi Covid-19 melanda, sektor pangan berbasis desa tetap berjalan meski banyak sektor modern mengalami perlambatan.

Dalam realitas di lapangan, petani tetap bekerja di sawah. Aktivitas pasar desa terus berlangsung. Kebutuhan pangan masyarakat tetap dipenuhi dari produksi domestik.

Situasi itu memperlihatkan bahwa ekonomi Indonesia memiliki kekuatan pasar internal yang besar. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penggerak utama pertumbuhan nasional.

Ketahanan Desa Masih Menghadapi Banyak Tekanan

Namun pada kenyataannya, ketahanan desa tidak sepenuhnya terlepas dari pengaruh global. Harga pupuk, bahan bakar, dan kebutuhan produksi tetap dipengaruhi kondisi internasional.

Petani memang tidak menyimpan dolar. Akan tetapi, biaya produksi mereka tetap bergerak mengikuti perubahan harga dunia.

Imbasnya terasa langsung pada kehidupan masyarakat desa. Kenaikan harga energi dapat memengaruhi biaya distribusi hasil pertanian dan harga kebutuhan pokok.

Pada sisi yang sama, perubahan suku bunga global juga berdampak pada cicilan kredit dan akses pembiayaan masyarakat.

Karena itu, kekuatan ekonomi desa tidak cukup hanya dipahami sebagai simbol optimisme nasional. Desa membutuhkan perlindungan kebijakan yang nyata.

Penguatan Desa Disebut Menjadi Tantangan Pemerintah

Perlu dicermati, masih banyak desa menghadapi keterbatasan infrastruktur dan akses layanan dasar. Internet belum merata di seluruh wilayah. Distribusi hasil pertanian juga masih menghadapi hambatan.

Bukan hanya itu, nilai tambah produk desa masih rendah karena sebagian besar hasil produksi dijual dalam bentuk mentah.

Di sisi lain, anak muda desa terus berpindah ke kota karena peluang ekonomi dianggap lebih menjanjikan.

Dalam kerangka itu, penguatan ekonomi Indonesia tidak bisa berhenti pada narasi tentang ketahanan desa. Pemerintah perlu memperluas akses pendidikan, teknologi, dan pembiayaan bagi masyarakat pedesaan.

Penguatan irigasi, distribusi pangan, dan hilirisasi produk pertanian juga dinilai penting agar desa tidak hanya menjadi pemasok bahan baku murah.

Yang patut dicatat, ukuran kekuatan ekonomi nasional bukan hanya pertumbuhan angka makro. Dampaknya harus benar-benar dirasakan masyarakat melalui harga pangan yang stabil dan kehidupan yang lebih layak.

Dalam konteks berbeda, sawah dan desa bukan sekadar simbol politik. Keduanya menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas ekonomi Indonesia di tengah tekanan global.