El Nino Picu Harga Pangan dan InflasiEl Nino Asia berpotensi memicu kenaikan harga pangan dan inflasi

Bahasa Kita – El Nino Asia kembali menjadi perhatian setelah para ahli memperingatkan risiko kenaikan harga pangan dan inflasi di Asia Tenggara. Fenomena cuaca ekstrem yang disebut sebagai El Nino Godzilla berpotensi mengganggu produksi pertanian, mengurangi pasokan beras, serta meningkatkan tekanan ekonomi di sejumlah negara kawasan.

Kekhawatiran itu muncul ketika Asia Tenggara juga menghadapi dampak konflik geopolitik di Timur Tengah yang telah mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan pupuk. Akibatnya, biaya produksi pertanian dan transportasi ikut meningkat.

Dalam kondisi tersebut, ancaman El Nino Asia dinilai dapat memperparah tekanan terhadap ketahanan pangan dan stabilitas harga di tingkat konsumen.

Pasokan Beras Terancam Akibat Cuaca Kering

Direktur Segi Enam Advisors di Singapura, Khor Yu Leng, menilai cuaca yang sangat kering menjadi tantangan baru bagi negara-negara Asia Tenggara. Menurutnya, El Nino super identik dengan risiko inflasi pangan.

Kekeringan berkepanjangan dan pola hujan yang tidak menentu berpotensi menekan hasil panen. Dampaknya, pasokan pangan dapat berkurang dalam waktu yang bersamaan.

Cuaca yang sangat kering merupakan kejutan lain bagi negara-negara Asia Tenggara. El Nino super pada dasarnya adalah kisah inflasi pangan,” ujarnya.

Yang jadi sorotan, beras menjadi komoditas paling sensitif di kawasan. Selain merupakan makanan pokok, perdagangan beras global juga tergolong terbatas sehingga gangguan kecil dapat memicu lonjakan harga.

Menurut Khor, pasar sering bereaksi bukan hanya terhadap kekurangan pasokan, tetapi juga terhadap kekhawatiran yang berkembang di masyarakat. Karena itu, harga pangan dapat meningkat lebih cepat dibanding penurunan hasil panen yang sebenarnya.

Dalam praktiknya, risiko pembatasan ekspor, penimbunan stok, hingga aksi panic buying dapat memperburuk situasi. Akibatnya, inflasi pangan berpotensi meningkat di berbagai negara Asia Tenggara.

Harga pangan seringkali naik lebih cepat daripada kerugian panen karena pasar bereaksi bukan hanya terhadap kekurangan, tetapi juga terhadap rasa takut,” kata Khor.

NOAA Prediksi El Nino Berlangsung Hingga 2027

NOAA
Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat

Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) memperkirakan peluang kemunculan El Nino mencapai 82 persen pada periode Mei hingga Juli 2026.

Sementara itu, fenomena tersebut diperkirakan bertahan hingga Februari 2027. Berdasarkan data NOAA, suhu permukaan laut di wilayah khatulistiwa Pasifik bagian tengah hingga timur terus berada di sekitar atau di atas rata-rata sejak pertengahan April 2026.

Kondisi tersebut memperkuat indikasi terbentuknya El Nino Asia dengan intensitas tinggi yang dapat memengaruhi pola cuaca di kawasan.

Dampak Meluas ke Pertanian dan Perikanan

Profesor Madya Meteorologi dan Klimatologi Universitas Malaya, Sheeba Chenoli, memperingatkan El Nino Godzilla berpotensi mengurangi produksi tanaman pangan dan meningkatkan risiko kebakaran hutan.

Selain itu, suhu laut yang lebih hangat dapat mengubah pola migrasi ikan. Dampaknya, hasil tangkapan nelayan berisiko menurun.

Asisten Profesor Adjung Universitas Nasional Singapura, Serina Abdul Rahman, menilai dampak El Nino Asia dapat berlangsung dalam jangka panjang. Menurutnya, gangguan pada musim tanam saat ini dapat memengaruhi ketersediaan benih dan bibit untuk periode berikutnya.

Negara Asia Tenggara Hadapi Tekanan Berlapis

Profesor Perubahan Iklim Universiti Malaysia Sabah, Justin Sentian, mengatakan El Nino Godzilla dapat memicu gelombang panas berkepanjangan, kekeringan parah, kebakaran hutan, dan penurunan kualitas udara.

Yang perlu digarisbawahi, negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Singapura menghadapi kerentanan yang sama. Sektor pertanian menjadi salah satu yang paling terdampak.

Pada saat yang sama, kawasan ini masih menghadapi tekanan akibat krisis energi dan pupuk yang dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Karena itu, El Nino Asia dinilai menjadi ujian besar bagi ketahanan pangan dan ekonomi Asia Tenggara dalam beberapa waktu ke depan.