Krisis ekonomiMenkeu menegaskan ekonomi Indonesia tidak sama dengan krisis 1998

Bahasa Kita – Koordinasi fiskal dan moneter kembali menjadi perhatian pemerintah di tengah pelemahan rupiah dan tekanan yang terjadi di pasar keuangan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini tidak bisa disamakan dengan situasi menjelang krisis moneter 1998.

Pernyataan itu disampaikan Purbaya saat merespons munculnya kekhawatiran sebagian pihak yang mengaitkan pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dengan potensi krisis ekonomi seperti yang pernah terjadi hampir tiga dekade lalu.

Menurutnya, kondisi fundamental ekonomi nasional saat ini jauh lebih baik dibanding periode sebelum krisis 1998. Karena itu, pemerintah tetap fokus menjaga stabilitas dan memastikan aktivitas ekonomi terus berjalan.

Purbaya Respons Kekhawatiran Pasar

Pelemahan nilai tukar rupiah dan turunnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga menyentuh level 6.400 memunculkan berbagai spekulasi di pasar. Namun, Purbaya menilai kondisi tersebut lebih banyak dipengaruhi sentimen jangka pendek.

Ia menegaskan situasi saat ini berbeda dengan kondisi menjelang krisis ekonomi 1998. Yang perlu digarisbawahi, perekonomian Indonesia saat ini masih mencatat pertumbuhan.

Kalau rupiah melemah seolah kita akan bergerak seperti 1998 lagi. Beda 1998 itu kebijakannya salah,” kata Purbaya di Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur.

Dalam konteks tersebut, pemerintah menilai gejolak pasar tidak serta-merta mencerminkan kondisi sektor riil secara keseluruhan.

Ekonomi Masih Tumbuh, Bukan Resesi

Purbaya menjelaskan salah satu perbedaan mendasar dengan krisis 1998 terletak pada kondisi pertumbuhan ekonomi. Saat itu, perlambatan ekonomi sudah terjadi sebelum krisis mencapai puncaknya.

Sementara itu, ekonomi Indonesia saat ini masih menunjukkan pertumbuhan. Artinya, pemerintah masih memiliki ruang untuk melakukan berbagai langkah penguatan.

Kita kan sekarang belum resesi. Ekonomi masih tumbuh kencang, jadi masih ada ruang untuk memperbaiki semua,” ujarnya.

Faktanya, pemerintah menilai pondasi ekonomi nasional tetap kuat meski pasar menghadapi tekanan dalam jangka pendek.

Purbaya Yudhi Sadewa
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa

Koordinasi Fiskal dan Moneter Jadi Fokus Lanjutan

Di tengah dinamika tersebut, pemerintah juga menyiapkan langkah lanjutan melalui penguatan koordinasi fiskal dan moneter. Kebijakan ini menjadi salah satu strategi untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Tak hanya itu, pemerintah berkomitmen meningkatkan sinergi dengan Bank Sentral agar kebijakan yang diterapkan berjalan lebih efektif. Menurut Purbaya, sinkronisasi kedua instrumen tersebut dapat memperkuat respons terhadap berbagai tantangan ekonomi.

Dalam praktiknya, koordinasi fiskal dan moneter diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan pasar sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Pemerintah Jaga Pondasi Ekonomi Nasional

Purbaya menegaskan fokus utama pemerintah saat ini adalah menjaga fondasi ekonomi agar tetap kokoh. Karena itu, berbagai kebijakan diarahkan untuk memastikan pembangunan ekonomi tidak terganggu.

Selain itu, pemerintah ingin memastikan gejolak yang terjadi di pasar keuangan tidak menghambat aktivitas ekonomi masyarakat maupun dunia usaha.

Kan pondasi ekonominya kan bagus, itu masalah sentimen jangka pendek aja. Jadi, saya akan fokus jaga pondasi ekonomi dengan memastikan pembangunan ekonomi tidak terganggu,” katanya.

Yang jadi sorotan, pemerintah memandang stabilitas ekonomi makro sebagai kunci untuk menjaga kepercayaan pelaku pasar. Oleh sebab itu, penguatan koordinasi fiskal dan moneter akan terus menjadi bagian dari strategi pemerintah menghadapi berbagai tantangan ekonomi ke depan.