Bahasa Kita – Jemaah haji meninggal menjadi kabar duka dalam penyelenggaraan ibadah haji 2026 setelah dua Jemaah Calon Haji (JCH) Embarkasi Padang wafat di Madinah, Arab Saudi.
Dua jemaah yang meninggal tersebut berasal dari kloter berbeda. Tukiman Sadi Kromo Karso (54), warga Kota Bengkulu yang tergabung dalam Kloter PDG 04, wafat pada Rabu, 29 April 2026 pukul 07.15 Waktu Arab Saudi.
Sementara itu, jemaah lainnya, Yunilis Muin (73), asal Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, yang tergabung dalam Kloter PDG 07, dilaporkan meninggal dunia saat menjalankan ibadah di Madinah berdasarkan laporan per 3 Mei 2026.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Sumatera Barat, M. Rifki, membenarkan peristiwa tersebut. Ia menyebutkan bahwa proses administrasi masih berlangsung untuk salah satu jemaah.
Proses Administrasi Jemaah Haji Meninggal
Menurut Rifki, dari dua jemaah yang wafat, baru satu orang yang telah memiliki certificate of death (COD). Sementara satu jemaah lainnya masih dalam proses penerbitan dokumen tersebut.
“Ada dua orang jemaah yang wafat, tapi baru satu orang yang sudah keluar certificate of death (COD) nya,” ujarnya, Minggu (3/5/2026).
Ia menjelaskan bahwa proses penerbitan COD biasanya memakan waktu satu hingga dua hari. Dokumen ini menjadi syarat utama dalam pengurusan hak jemaah selanjutnya.
Setelah COD diterbitkan, petugas haji di Arab Saudi dapat memproses badal haji bagi jemaah yang wafat sebelum puncak ibadah haji.

Hak Badal Haji bagi Jemaah Wafat
Jemaah yang meninggal sebelum puncak haji tetap mendapatkan hak untuk dibadalkan hajinya. Proses ini akan dilakukan oleh petugas sesuai ketentuan yang berlaku.
Dalam praktiknya, badal haji menjadi bagian dari layanan yang diberikan kepada jemaah yang tidak dapat menyelesaikan rangkaian ibadah karena wafat.
Di sisi lain, pihak Kemenhaj memastikan bahwa seluruh prosedur berjalan sesuai aturan agar hak jemaah tetap terpenuhi.
Kondisi Jemaah dan Imbauan Kesehatan
Selain itu, kondisi jemaah haji lainnya dilaporkan dalam keadaan sehat. Meski demikian, pemerintah tetap mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah.
Rifki mengimbau jemaah untuk tidak memaksakan diri dalam menjalankan ibadah sunat. Ia juga menekankan pentingnya menjaga asupan cairan untuk menghindari dehidrasi.
“Cuaca di Arab Saudi cukup panas dengan tingkat kelembaban rendah,” ujarnya.
Perbedaan cuaca antara Indonesia dan Arab Saudi menjadi faktor yang perlu diperhatikan oleh jemaah. Oleh karena itu, pengaturan aktivitas dan kondisi fisik menjadi hal penting selama pelaksanaan ibadah.
Imbauan tersebut diberikan agar seluruh rangkaian ibadah haji dapat berjalan sesuai rencana di tengah kondisi lingkungan yang berbeda.
