Bahasa Kita – Kerusakan jembatan penghubung di Desa Reje Payung, Kecamatan Linge, Aceh Tengah, masih belum tertangani meski bencana hidrometeorologi telah berlalu selama tujuh bulan. Kondisi itu membuat aktivitas warga dan pelajar terganggu karena akses utama keluar masuk desa nyaris tidak dapat digunakan.
Situasi tersebut kembali menjadi perhatian setelah video warga dan siswa menyeberangi sungai menggunakan jembatan darurat viral di media sosial.
Dalam video yang beredar, sejumlah pelajar terlihat berhati-hati melintasi sungai melalui jembatan yang sebagian telah terendam air.
Beberapa warga juga tampak membantu siswa menyeberang untuk menghindari risiko terseret arus sungai.
Yang jadi sorotan, jembatan tersebut merupakan satu-satunya akses penghubung bagi lima desa di wilayah Kemukiman Wih Dusun Jamat.
Jembatan Desa Reje Payung Rusak Sejak Bencana Hidrometeorologi
Sekretaris Pos Masyarakat Penanganan Penanggulangan Bencana Reje Payung, Mulia Rizki, mengatakan masyarakat sudah berusaha memperbaiki jembatan secara gotong royong selama satu bulan terakhir.
Namun pada kenyataannya, upaya tersebut terkendala keterbatasan bahan bangunan dan peralatan.
“Pascarusaknya jembatan darurat itu, kami sudah sebulan kesulitan menyeberangi sungai,” ujar Mulia Rizki, Minggu (17/5/2026).
Menurutnya, masyarakat beberapa kali mencoba memperbaiki akses penyeberangan agar aktivitas warga tetap berjalan.
Meski begitu, kondisi sungai dan keterbatasan perlengkapan membuat jembatan darurat kembali mengalami kerusakan.
“Kami sudah berkali-kali melakukan perbaikan secara gotong royong, namun usaha kami terus terkendala karena kekurangan bahan dan alat,” lanjutnya.
Dalam praktiknya, kerusakan jembatan membuat mobilitas warga menjadi sangat terbatas, terutama saat debit sungai meningkat setelah hujan deras.
Pelajar Lima Desa Bergantung pada Jembatan Darurat

Mulia Rizki menjelaskan jembatan tersebut bukan hanya digunakan warga untuk aktivitas harian, tetapi juga menjadi jalur utama pelajar menuju sekolah.
Pelajar dari lima desa disebut harus melewati akses itu untuk menuju sekolah tingkat SD, SMP, hingga SMA di Desa Reje Payung.
Di sisi lain, kondisi jembatan apung yang dibangun secara swadaya kini mengalami kerusakan cukup parah.
Akibatnya, para siswa harus melintasi sungai dengan kondisi jembatan yang sebagian terendam air.
Yang kerap luput diperhatikan, risiko penyeberangan meningkat ketika arus sungai membesar saat hujan turun di wilayah pegunungan.
“Hari ini saat siswa dan para gurunya hendak menyeberangi sungai, satu siswa nyaris terbawa arus sungai lantaran jembatan yang mereka lalui telah terendam sungai,” kata Rizki.
Hal ini terlihat dari video yang menunjukkan warga berjaga di sekitar sungai untuk membantu proses penyeberangan pelajar.
Aktivitas Warga Desa Reje Payung Ikut Terganggu
Tak hanya sektor pendidikan, kerusakan jembatan juga berdampak terhadap aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat.
Warga menyebut akses tersebut menjadi jalur utama distribusi kebutuhan harian dan penghubung antarwilayah desa.
Pada sisi yang sama, kondisi jembatan yang rusak membuat masyarakat kesulitan menjalankan aktivitas rutin, termasuk membawa hasil kebun dan kebutuhan rumah tangga.
Dalam konteks tersebut, warga berharap akses penyeberangan dapat segera diperbaiki agar aktivitas masyarakat kembali normal.
Namun hingga kini, masyarakat masih mengandalkan jembatan darurat hasil swadaya yang kondisinya terus tergerus arus sungai.
Imbasnya, setiap kali hujan turun deras, warga dan pelajar harus menghadapi risiko saat menyeberangi sungai.
Secara faktual, kondisi infrastruktur di Desa Reje Payung menjadi salah satu dampak bencana hidrometeorologi yang hingga kini belum sepenuhnya pulih di wilayah Kecamatan Linge, Aceh Tengah.
