Bahasa Kita – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan penyebab kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, masih dalam proses penyelidikan aparat penegak hukum. Kebakaran tersebut melanda wilayah Kelurahan Tanjung Harapan, Kecamatan Nunukan Selatan pada Minggu sekitar pukul 15.56 WITA.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan fokus utama petugas saat kebakaran terjadi adalah mempercepat proses pemadaman agar api tidak meluas ke area lain.

Hingga saat ini penyebab kebakaran masih dalam proses penyelidikan oleh pihak berwenang,” kata Abdul Muhari di Jakarta, Senin.

Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Nunukan, luas lahan yang terbakar mencapai sekitar dua hektare. Area tersebut sempat memunculkan kekhawatiran karena kondisi cuaca mulai memasuki masa peralihan musim.

Dalam konteks tersebut, BNPB menilai kewaspadaan terhadap kebakaran hutan perlu diperketat, terutama di wilayah yang memiliki titik rawan api saat memasuki musim kemarau.

Abdul Muhari
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari

Tim Gabungan Dikerahkan Padamkan Kebakaran di Nunukan

Tak lama setelah kebakaran dilaporkan, tim gabungan langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan pemadaman darat. Tim tersebut terdiri dari berbagai unsur, termasuk kelompok Masyarakat Peduli Api atau MPA.

Petugas membawa perlengkapan pemadaman dan kendaraan pendukung untuk mempercepat penanganan di lapangan. Langkah cepat itu dilakukan agar api tidak menjalar ke lahan lain di sekitar lokasi kebakaran.

Dalam praktiknya, kondisi lahan dan cuaca menjadi tantangan tersendiri saat proses pemadaman berlangsung. Meski begitu, upaya tim gabungan berhasil menghentikan penyebaran api dalam waktu relatif singkat.

Berdasarkan data BNPB, api berhasil dipadamkan sepenuhnya pada hari yang sama sekitar pukul 18.33 WITA. Artinya, proses pemadaman berlangsung kurang dari tiga jam sejak kebakaran pertama kali terdeteksi.

Yang jadi sorotan, kecepatan penanganan dianggap penting karena Indonesia mulai memasuki periode rawan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah.

BNPB Minta Daerah Tingkatkan Kesiapsiagaan Kebakaran

Abdul Muhari menjelaskan Indonesia saat ini sedang memasuki masa transisi dari musim penghujan menuju musim kemarau. Perubahan cuaca tersebut dinilai dapat meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan apabila tidak diantisipasi lebih awal.

Di sisi lain, BNPB juga mengingatkan ancaman bencana hidrometeorologi masih dapat terjadi selama masa peralihan musim. Karena itu, pemerintah daerah diminta tetap aktif melakukan pemantauan kondisi lingkungan.

Menurutnya, kesiapsiagaan daerah menjadi faktor penting untuk meminimalisir dampak kebakaran yang lebih luas. Pemantauan titik panas dan wilayah rawan api dinilai perlu dilakukan secara berkala.

BNPB Soroti Pemantauan Titik Rawan Api

BNPB meminta pemerintah daerah bersama masyarakat meningkatkan pengawasan terhadap area yang berpotensi mengalami kebakaran. Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat deteksi dini sebelum api meluas.

Kami meminta kesiapsiagaan di sejumlah wilayah Indonesia ditingkatkan, terutama dalam memantau titik-titik rawan api, guna meminimalisir dampak yang lebih luas selama musim kemarau,” ujar Abdul Muhari.

Selain pemantauan lapangan, keterlibatan masyarakat juga dinilai penting dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau berlangsung.