Kesehatan

H3N2 Subclade K Banyak Terdeteksi pada Anak, Ini Faktanya

H3N2 subclade K yang dijuluki super flu paling banyak ditemukan pada anak 0-9 tahun, dengan gejala dan keparahan serupa flu musiman.
H3N2 subclade K yang dijuluki super flu paling banyak ditemukan pada anak 0-9 tahun, dengan gejala dan keparahan serupa flu musiman.

H3N2 subclade K yang dijuluki super flu paling banyak ditemukan pada anak usia 0-9 tahun sepanjang 2026, menurut data Kementerian Kesehatan. Gejala klinisnya disebut tidak berbeda signifikan dari influenza A H1N1 PDM09.

Kemenkes mencatat 22 kasus H3N2 subclade K pada 2026 berdasarkan pemantauan hingga minggu ke-38. Rincian usia yang dipaparkan dalam konferensi pers, Senin (28/9), memperlihatkan kelompok anak mendominasi kasus yang terdeteksi.

Sebaran Usia Kasus H3N2 Subclade K pada 2026

Berdasarkan kelompok umur, kasus paling banyak ditemukan pada anak usia 0-4 tahun dan 5-9 tahun, masing-masing delapan kasus. Artinya, 16 dari 22 kasus terjadi pada anak di bawah 10 tahun. Selanjutnya terdapat lima kasus pada kelompok usia 10-17 tahun dan satu kasus pada usia 18-59 tahun.

Kasus tahun ini berasal dari DKI Jakarta, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Utara, dan Papua Selatan. Seluruhnya tercatat hanya sampai minggu ke-16, dan tidak ada kasus baru setelahnya hingga minggu ke-38.

Gejala dan Keparahan Serupa Flu Musiman

Plt Direktur Jenderal P2P Kemenkes Andi Saguni menegaskan tidak ada perbedaan gejala yang berarti antara kedua subtipe. "Jadi, sebenarnya tidak ada perbedaan gejala klinis yang signifikan antara infeksi influenza A H1N1 PDM09 dan dengan influenza A H3N2 subclade K," ujarnya.

Saguni mengakui varian ini sering dijuluki super flu karena kemampuannya bermutasi dan menular dengan sangat cepat. Namun, menurutnya, data WHO dan Kemenkes menegaskan tingkat keparahannya tetap serupa dengan flu musiman lainnya. Keduanya adalah subtipe virus influenza A musiman yang menyerang saluran pernapasan.

Mengapa Istilah Super Flu Perlu Diluruskan

Kemenkes menilai kata "super" dalam sebutan populer tersebut dapat memicu salah paham, sebab mudah diasosiasikan dengan tingkat keparahan penyakit. Istilah itu, kata Saguni, bisa menyebabkan pengertian atau pengalaman yang keliru di tengah masyarakat. "Ini saya tegaskan kembali istilah awam," lanjutnya.

Saat ini, subtipe yang dominan di Indonesia adalah influenza A H1N1 PDM09, bukan H3N2 subclade K. Dengan pemahaman yang tepat mengenai istilah, sebaran usia, dan gejala, publik diharapkan dapat menyikapi informasi seputar influenza secara proporsional dan berdasarkan data resmi.