Ketimpangan tabungan masyarakat semakin terlihat meski nilai simpanan perbankan meningkat. Pertumbuhan dana perbankan dinilai belum mencerminkan perbaikan kondisi keuangan sebagian besar masyarakat.
Ketimpangan tabungan masyarakat menjadi perhatian setelah proyeksi pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada 2026 melambat dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan simpanan perbankan masih bertumpu pada kelompok nasabah dengan saldo besar.
Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center Christiantoko menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan nominal simpanan belum sejalan dengan kemampuan masyarakat untuk menabung.
Menurutnya, jumlah rekening memang terus bertambah. Namun, sebagian besar rekening baru hanya berisi dana dalam jumlah terbatas sehingga belum mampu mendorong pemerataan pertumbuhan simpanan.
Mayoritas Rekening Hanya Menguasai Sebagian Kecil Simpanan
Berdasarkan data LPS, rekening dengan saldo di bawah Rp100 juta mendominasi hingga 98,90 persen dari total rekening perbankan nasional. Akan tetapi, kelompok tersebut hanya menguasai sekitar 11,06 persen total simpanan.
Sementara itu, rekening dengan saldo lebih dari Rp1 miliar hanya mencakup 0,12 persen dari seluruh rekening. Meski jumlahnya sangat sedikit, kelompok tersebut menguasai sekitar 70,85 persen total dana yang tersimpan di perbankan.
Dalam praktiknya, pertumbuhan dana juga memperlihatkan pola serupa. Rekening bernilai besar terus bertambah, sedangkan simpanan masyarakat kecil justru mengalami penurunan.
Daya Beli Dinilai Menjadi Faktor Penentu
Survei LPS menunjukkan Indeks Kemauan Menabung naik menjadi 90,2 pada Juni 2026. Sebaliknya, Indeks Kemampuan Menabung turun menjadi 73,2 pada periode yang sama.
Christiantoko menilai kondisi tersebut menandakan masyarakat masih ingin menabung. Namun, tekanan biaya hidup dan keterbatasan pendapatan membuat kemampuan menyisihkan uang semakin terbatas.
Karena itu, ia menilai penguatan DPK dalam jangka panjang memerlukan peningkatan pendapatan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, serta daya beli yang tetap terjaga. Selama pertumbuhan simpanan masih didominasi kelompok berpendapatan tinggi, kenaikan DPK belum dapat dianggap sebagai indikator membaiknya kondisi keuangan masyarakat secara luas.
