Kualitas udara Jakarta diperkirakan menurun akibat musim kemarau dan El Nino

Kualitas udara Jakarta berpotensi memburuk selama musim kemarau 2026. BMKG menjelaskan kondisi tersebut bukan karena jumlah polutan meningkat, melainkan karena berkurangnya hujan yang biasanya membantu membersihkan atmosfer dari berbagai partikel pencemar.

Kualitas udara Jakarta dan wilayah sekitarnya diperkirakan mengalami penurunan dalam beberapa bulan ke depan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kombinasi musim kemarau dan fenomena El Nino menjadi faktor utama yang memengaruhi kondisi tersebut.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan penurunan kualitas udara tidak selalu berkaitan dengan lonjakan jumlah polutan. Menurutnya, faktor yang paling berpengaruh adalah berkurangnya curah hujan selama musim kemarau.

Dalam kondisi normal, hujan memiliki fungsi penting sebagai pembersih alami atmosfer. Ketika hujan turun, berbagai partikel pencemar di udara ikut terbawa sehingga kualitas udara menjadi lebih baik.

Sebaliknya, saat hujan berkurang, polutan yang berasal dari aktivitas sehari-hari akan lebih lama bertahan di atmosfer.

Sebenarnya dengan tidak adanya hujan ini, bukan kualitas udaranya polutannya naik, tetapi polutannya tidak tercuci,” kata Ardhasena dalam konferensi pers perkembangan musim kemarau 2026 secara daring, Rabu (10/6/2026).

Hujan Berkurang, Polutan Menumpuk di Atmosfer

Menurut BMKG, sumber polutan di wilayah perkotaan tetap muncul setiap hari. Aktivitas transportasi, industri, hingga pembangkit energi terus menghasilkan emisi yang masuk ke atmosfer.

Dalam kondisi musim hujan, sebagian polutan tersebut dapat berkurang karena proses pencucian alami oleh hujan.

Namun, saat musim kemarau berlangsung, mekanisme tersebut tidak bekerja secara optimal.

Akibatnya, polutan lebih mudah menumpuk dan bertahan dalam waktu yang lebih lama di udara.

Sumber polutan kan ada setiap saat, melalui aktivitas manusia, seperti transportasi, pabrik, pembangkit energi, dan sebagainya,” ujar Ardhasena.

Ia menambahkan bahwa absennya hujan membuat kualitas udara sulit membaik meskipun tidak terjadi peningkatan signifikan pada sumber pencemaran.

Dengan kata lain, masalah utama bukan terletak pada jumlah emisi yang bertambah, melainkan berkurangnya proses alami yang membantu membersihkan atmosfer.

Ardhasena Sopaheluwakan
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan

El Nino Diprediksi Bertahan hingga Awal 2027

Sementara itu, BMKG memprediksi fenomena El Nino akan segera aktif dan berlanjut hingga awal tahun 2027.

Mengacu pada proyeksi terbaru, peluang El Nino berkembang ke kategori moderat mencapai 98 persen.

Selain itu, peluang El Nino mencapai kategori kuat juga cukup besar, yakni sekitar 62 persen.

Fenomena iklim tersebut dikenal memengaruhi pola cuaca di berbagai wilayah dunia. Namun, dampaknya tidak selalu sama pada setiap negara.

Di Indonesia yang berada di kawasan tropis, El Nino umumnya menyebabkan penurunan curah hujan.

Akibatnya, kondisi cuaca menjadi lebih kering dibandingkan tahun-tahun normal.

Dalam praktiknya, dampak tersebut mulai terasa sejak Juni dan dapat berlangsung hingga Januari tahun berikutnya.

Suhu Jakarta Diperkirakan Lebih Sumuk pada September-Oktober

Selain memengaruhi kualitas udara, BMKG juga memperkirakan suhu udara di Jakarta akan terasa lebih panas dan sumuk menjelang puncak musim kemarau.

Menurut Ardhasena, kondisi tersebut kemungkinan terjadi pada akhir September hingga Oktober.

Periode itu bertepatan dengan posisi Matahari yang melintas di atas Pulau Jawa.

Sebelum memasuki periode tersebut, wilayah Jakarta dan sebagian besar Pulau Jawa diperkirakan mengalami udara yang lebih kering pada Juli hingga Agustus.

Hal itu terjadi karena curah hujan rendah disertai penurunan tingkat kelembapan udara.

Sebelum bulan September, yaitu di sekitar bulan Juli dan Agustus, udara kering yang timbul akibat curah hujan yang minim ini juga disertai dengan berkurangnya kelembapan,” jelas Ardhasena.

Ia menambahkan temperatur udara akan meningkat ketika memasuki September dan Oktober.

Yang perlu digarisbawahi, kombinasi minimnya hujan, meningkatnya suhu, serta aktifnya El Nino menjadi faktor yang berpotensi memperburuk kondisi kualitas udara di Jakarta dan wilayah sekitarnya selama musim kemarau 2026.