bahasakita.id – Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tercatat sebesar 5,11 persen (ctc). Angka ini berada sedikit di bawah target pemerintah dalam APBN 2025 sebesar 5,2 persen. Namun, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan struktur pertumbuhan yang relatif stabil, dengan penguatan pada konsumsi rumah tangga, investasi, dan sejumlah sektor riil. Di sinilah makna pertumbuhan ekonomi perlu dibaca: bukan semata capaian tahunan, melainkan susunan faktor yang membentuknya.
Pada triwulan IV 2025, ekonomi Indonesia tumbuh 5,39 persen (yoy), tertinggi sejak pandemi COVID-19. Secara kuartalan, pertumbuhan mencapai 0,86 persen. Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan tercatat Rp13.580,5 triliun, sementara atas dasar harga berlaku mencapai Rp23.821,1 triliun.
Membaca Struktur Pertumbuhan dari Sisi Pengeluaran
BPS mencatat seluruh komponen pengeluaran mengalami pertumbuhan pada triwulan IV 2025. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,11 persen dan menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan kontribusi 2,68 persen.
“Konsumsi rumah tangga ini kan share-nya terhadap PDB pengeluaran mencapai 53,63 persen,” ujar Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti.
Artinya, lebih dari separuh aktivitas ekonomi nasional bersandar pada belanja masyarakat. Dalam bahasa sederhananya, pergerakan ekonomi 2025 sangat dipengaruhi oleh daya beli dan aktivitas konsumsi harian.
Di sisi lain, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,12 persen dan menyumbang 1,96 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. Investasi menjadi penopang kedua terbesar dari sisi pengeluaran.
Konsumsi, Investasi, dan Peran Fiskal
Bersamaan dengan itu, konsumsi pemerintah tumbuh 4,55 persen, sementara ekspor barang dan jasa meningkat 3,25 persen. Impor juga tumbuh 3,96 persen, mencerminkan aktivitas ekonomi yang kembali bergairah.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa dorongan fiskal di akhir tahun berperan menjaga momentum konsumsi.
“Pemerintah menggelontorkan fiskal ya, bantuan sosial, dan terlihat konsumsi juga meningkat,” kata dia.
Lapangan Usaha dan Nilai Tambah Ekonomi

Dari sisi lapangan usaha, hampir seluruh sektor mencatat pertumbuhan positif. Industri pengolahan tumbuh 5,40 persen dan menjadi sumber pertumbuhan tertinggi dengan kontribusi 1,10 persen.
Transportasi dan pergudangan mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 8,98 persen, disusul jasa lainnya yang tumbuh 8,71 persen. Sektor perdagangan tumbuh 5,49 persen, sementara pertanian tumbuh 5,33 persen.
Yang kerap luput diperhatikan, sektor-sektor ini merepresentasikan lebih dari 40 persen struktur ekonomi nasional. Dengan kata lain, pertumbuhan 2025 ditopang oleh sektor yang langsung bersentuhan dengan aktivitas ekonomi riil.
Makna Angka dalam Konteks Tahunan
Secara faktual, pertumbuhan ekonomi 2025 dipengaruhi oleh kinerja kuartal I yang relatif rendah, yakni 4,87 persen. Meski demikian, tren penguatan terlihat pada kuartal berikutnya hingga mencapai 5,39 persen di akhir tahun.
Menurut Airlangga, capaian tersebut masih berada dalam jalur kebijakan pemerintah.
“Konsumsi terdorong, sektor riil baik, tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Jika dirangkum, makna pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 terletak pada struktur yang relatif seimbang: konsumsi sebagai jangkar utama, investasi sebagai penggerak lanjutan, dan sektor riil sebagai penopang nilai tambah ekonomi nasional.
