Bahasa Kita – Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.237 per dolar AS pada perdagangan Selasa (28/4/2026) pagi. Pelemahan ini terjadi seiring perubahan sentimen global yang kembali mengarah pada penghindaran risiko.
Rupiah tercatat turun 26 poin atau 0,15 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Pergerakan ini mencerminkan tekanan eksternal yang memengaruhi pasar valuta asing domestik.
Dalam konteks regional, pergerakan mata uang Asia terlihat bervariasi terhadap dolar AS. Sejumlah mata uang mengalami pelemahan, sementara sebagian lainnya justru menguat tipis.
Pergerakan Nilai Tukar Rupiah di Tengah Mata Uang Asia
Secara faktual, yuan China turun 0,05 persen, peso Filipina melemah 0,12 persen, dolar Singapura terkoreksi 0,05 persen, dan yen Jepang turun 0,07 persen.
Di sisi lain, ringgit Malaysia justru menguat 0,4 persen. Won Korea Selatan naik tipis 0,02 persen, sementara dolar Hong Kong juga mencatat kenaikan sebesar 0,02 persen.
Perbedaan arah ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak terjadi secara merata di kawasan, melainkan dipengaruhi faktor eksternal yang spesifik.
Tekanan Global Dorong Sentimen Risk Off
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, menyebut pelemahan rupiah dipicu perubahan sentimen pasar global yang kembali bersifat risk off.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen yang berbalik risk off dari ketidakpastian perdamaian di Timur Tengah,” ujarnya.
Menurutnya, ketidakpastian tersebut dipicu laporan bahwa Amerika Serikat tidak menerima usulan perdamaian terbaru dari Iran.
Akibatnya, investor cenderung mengalihkan aset ke instrumen yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.
Dalam perkembangan yang sama, indeks dolar AS dan harga minyak mentah dunia juga terpantau mengalami kenaikan.
Proyeksi Pergerakan Rupiah Hari Ini
Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah masih akan bergerak dalam rentang terbatas sepanjang hari ini. Kisaran yang diproyeksikan berada di antara Rp17.150 hingga Rp17.300 per dolar AS.
Dalam praktiknya, pergerakan ini akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan sentimen global, khususnya terkait situasi geopolitik dan dinamika pasar energi.
Yang jadi sorotan, ketergantungan terhadap faktor eksternal membuat rupiah sensitif terhadap perubahan arah kebijakan dan kondisi global.
Pada saat yang sama, pergerakan mata uang negara maju juga menunjukkan tren pelemahan terhadap dolar AS. Euro turun 0,07 persen, poundsterling Inggris melemah 0,08 persen, dan dolar Australia terkoreksi 0,12 persen.
Dolar Kanada dan franc Swiss masing-masing juga melemah 0,07 persen dan 0,13 persen, memperkuat dominasi dolar AS dalam perdagangan global saat ini.
