FOTO Rais Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar dan Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf bersimpang jalan. Masing-masing bakal menggelar rapat pleno. - Istimewa

Pleno PBNU dan Tafsir atas Sebuah Kekisruhan Organisasi

bahasakita.id — Dua pleno yang digelar Syuriyah PBNU dan kubu Gus Yahya pada 9–11 Desember 2025 memperlihatkan tarik-menarik tafsir konstitusi. Peristiwa ini menjadi cermin bagaimana sebuah jam’iyah besar mengalami ujian makna terkait legitimasi, kewenangan, dan proses musyawarah.

Pleno Syuriyah di Hotel Sultan merujuk surat 4799/PB.02/A.I.01.01/99/12/2025 yang ditandatangani Rais Aam KH Mifrachul Akhyar dan Katib Syuriyah KH Ahmad Tajul Mafakhir (2/12). Agenda utama: penyampaian hasil rapat harian dan penetapan Pj Ketua Umum PBNU.

Ketua PBNU Mohammad Mukri menyebut forum ini mekanisme konstitusional. “Insya Allah, salah satu agendanya adalah penetapan Pj Ketum PBNU,” ujarnya (9/12/2025).

Ketika Banom Menolak

Tujuh pimpinan banom pusat menolak pleno Syuriyah karena dianggap tidak menghadirkan dua pucuk pimpinan PBNU. Pernyataan bersama itu dirilis Jumat (5/12). Kritik semakin kuat ketika Lakpesdam PBNU menilai keputusan sepihak menggerus asas kolektif.

NU tidak boleh berjalan dengan ego sektoral,” kata Muhammad Nurkhoiron.

Banom mendorong forum Tebuireng sebagai ruang islah. Dalam dokumen mereka, istilah seperti “musyawarah jernih” dan “tabayyun” muncul sebagai upaya mengembalikan keputusan pada prinsip-prinsip organisasi.

Ketegangan Dwi Tunggal

Di sisi lain, Gus Yahya menegaskan tidak sahnya pleno tanpa Tanfidziyah. “Rapat Pleno Syuriyah PBNU tidak sah tanpa keterlibatan Tanfidziyah,” ujarnya (3/12).

Ketua PBNU Ulil Abshar Abdalla menyebut syarat sah pleno adalah dipimpinnya forum oleh Rais Aam dan ketua umum sebagai dwi tunggal. Pleno kubu Gus Yahya dijadwalkan membahas evaluasi program, konsolidasi organisasi, dan isu kebencanaan. (*)