Bahasa Kita – Ketegangan AS Iran mulai berdampak pada hubungan Amerika Serikat dengan sekutu-sekutunya di Eropa. Pentagon memutuskan mengurangi Brigade Combat Team (BCT) di Eropa dari empat menjadi tiga unit, sekaligus menunda pengerahan pasukan ke Polandia. Kebijakan itu memunculkan kekhawatiran baru di tubuh NATO.
Keputusan tersebut diumumkan Pentagon sebagai bagian dari evaluasi besar terkait posisi militer Amerika Serikat di kawasan Eropa. Juru bicara Pentagon Sean Parnell mengatakan kebijakan itu merupakan hasil dari proses analisis berlapis terhadap kebutuhan strategis Washington.
Dalam praktiknya, langkah tersebut juga menjadi sinyal perubahan pendekatan Presiden Donald Trump terhadap NATO dan sekutu Eropa di tengah konflik Iran yang terus memanas.
AS Iran Dorong Perubahan Strategi Militer Amerika
Pentagon menegaskan pengurangan Brigade Combat Team akan mengembalikan jumlah pasukan Amerika Serikat di Eropa ke level tahun 2021. Berdasarkan laporan Kongres AS, satu BCT biasanya berisi 4.000 hingga 4.700 personel militer.
Artinya, ribuan tentara AS berpotensi tidak lagi ditempatkan di kawasan Eropa dalam waktu dekat.
“Kementerian akan menentukan penempatan akhir pasukan AS ini dan pasukan AS lainnya di Eropa berdasarkan analisis lebih lanjut,” demikian pernyataan Pentagon.
Yang patut dicatat, Pentagon juga menyinggung agenda “America First” milik Donald Trump dalam penjelasannya. Pemerintah AS ingin negara-negara Eropa mengambil tanggung jawab lebih besar terhadap pertahanan kawasan mereka sendiri.
Dalam konteks tersebut, pengurangan pasukan tidak hanya dipandang sebagai kebijakan militer biasa. Langkah itu juga dibaca sebagai tekanan politik Washington terhadap negara-negara NATO.
Polandia Khawatir Kehilangan Dukungan Militer AS
Penundaan rotasi pasukan ke Polandia menjadi bagian yang paling disorot dari keputusan Pentagon. Selama ini, sekitar 10.000 tentara AS ditempatkan di Polandia dengan sistem penugasan bergilir.
Karena bergantung pada rotasi tersebut, keputusan Pentagon langsung memicu kekhawatiran di Warsawa. Pemerintah Polandia menilai keberadaan militer AS sangat penting bagi keamanan kawasan Eropa Timur.
Wakil Menteri Pertahanan Polandia Paweł Zalewski mengatakan pemerintahnya akan meminta penjelasan langsung kepada pejabat Amerika Serikat.
“Kami akan mengajukan pertanyaan dan saya kira kami akan mendapatkan jawaban,” kata Zalewski.
Di sisi lain, Pentagon memastikan penundaan tersebut bersifat sementara. Wakil Presiden AS JD Vance juga menegaskan bahwa Washington tidak sedang menarik seluruh pasukannya dari Eropa. Namun pada kenyataannya, perubahan pola penempatan militer tetap memicu kegelisahan di antara anggota NATO.
Eropa Menolak Ikut Campur Konflik Iran
Hubungan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa memang terus mengalami ketegangan sejak Donald Trump kembali ke Gedung Putih. Salah satu pemicu utamanya adalah perbedaan sikap terkait Iran.
Trump beberapa kali meminta sekutu Eropa membantu operasi Amerika Serikat menghadapi Iran. Namun, sejumlah negara Eropa justru mengambil posisi berbeda.
Inggris dan Prancis dilaporkan menolak penggunaan wilayah udara maupun pangkalan mereka untuk mendukung serangan Amerika Serikat ke Iran. Sikap tersebut memperlihatkan mulai renggangnya koordinasi antara Washington dan sekutu NATO.
Dalam perkembangan selanjutnya, Trump juga terus mendorong negara-negara Eropa meningkatkan anggaran pertahanan mereka sendiri. Ia menilai Eropa terlalu lama bergantung pada kekuatan militer Amerika Serikat.
Hal krusialnya, pengurangan pasukan ini muncul ketika perang Rusia dan Ukraina masih berlangsung. Dalam situasi tersebut, perubahan strategi Washington langsung menjadi perhatian utama negara-negara Eropa Timur yang selama ini mengandalkan dukungan militer AS.
