Review Salmokji Whispering Water menjadi perbincangan setelah film horor Korea Selatan ini mencetak rekor box office sekaligus menghadirkan teror atmosferik yang berbeda melalui kisah misteri di sebuah waduk terpencil.
Review Salmokji Whispering Water menarik perhatian penggemar film horor karena menghadirkan perpaduan ketegangan psikologis, cerita rakyat, dan misteri yang berkembang perlahan. Film garapan sutradara Lee Sang-min ini tayang di Korea Selatan pada 8 April 2026.
Film tersebut mengikuti perjalanan kru pemetaan road-view yang mendapat tugas merekam ulang dokumentasi di Waduk Salmokji. Sebelumnya, rekaman dari lokasi itu tidak dapat digunakan karena menampilkan sosok misterius yang tidak dikenal.
Su-in memimpin tim tersebut setelah menggantikan rekan senior yang hilang secara misterius. Namun, tugas yang awalnya terlihat biasa berubah menjadi penyelidikan mengerikan ketika berbagai kejadian aneh mulai muncul di sekitar waduk.
Cerita Misteri di Waduk Salmokji
Yang jadi sorotan dalam film ini adalah latar lokasi yang memiliki hubungan dengan cerita rakyat Korea. Waduk Salmokji dalam film mengambil nama dari waduk nyata yang berada di Yesan, Provinsi Chungcheong Selatan.
Menurut cerita yang berkembang, kawasan tersebut dulunya merupakan area pemakaman sebelum akhirnya tenggelam akibat pembangunan waduk. Detail itu memberi nuansa folk horror yang kuat sepanjang film berlangsung.
Selanjutnya, kru mulai menemukan berbagai petunjuk yang mengarah pada keberadaan sosok misterius di bawah permukaan air. Situasi semakin mencekam ketika mereka mencoba mengungkap penyebab hilangnya anggota tim sebelumnya.
Kekuatan Atmosfer dan Desain Suara
Faktanya, salah satu elemen yang paling banyak mendapat pujian adalah desain suara. Ketegangan tidak dibangun melalui kemunculan hantu secara terus-menerus, melainkan lewat detail audio yang sederhana.
Suara batu bergesekan, percikan air, hingga kerikil yang jatuh ke permukaan waduk menciptakan rasa tidak nyaman yang konsisten. Karena itu, penonton dapat merasakan ancaman bahkan ketika layar terlihat tenang.

Tak hanya itu, konsep hantu air yang diusung film ini juga cukup berbeda. Sosok tersebut tidak mampu naik ke daratan dan hanya bisa memancing korbannya masuk ke air secara sukarela.
Selain itu, penggunaan kamera fish-eye serta pendekatan found-footage saat kru mendokumentasikan lokasi turut memperkuat kesan realistis dan menambah ketegangan.
Kekurangan yang Menjadi Catatan
Meski begitu, beberapa karakter pendukung tidak memperoleh pengembangan yang memadai. Sebagian besar anggota kru hadir tanpa latar belakang yang kuat.
Akibatnya, ketika bahaya mulai mengancam mereka, dampak emosional yang muncul terasa kurang maksimal. Penonton tidak memiliki cukup waktu untuk mengenal para karakter tersebut lebih dalam.
Di sisi lain, bagian tengah film juga mendapat kritik karena pola ceritanya berulang. Kru memeriksa rekaman, menemukan keanehan, lalu kembali menghadapi kepanikan dengan ritme yang serupa.
Rekor Box Office Film Horor Korea
Terlepas dari sejumlah kekurangan, pencapaian komersial film ini sangat mengesankan. Dalam waktu 19 hari sejak penayangan perdana, Salmokji: Whispering Water berhasil menarik lebih dari 2 juta penonton.
Yang menarik, capaian tersebut menjadikannya film horor Korea pertama dalam delapan tahun terakhir yang menembus angka tersebut.
Lebih jauh, film ini bertahan di posisi puncak box office Korea Selatan selama 21 hari berturut-turut. Pada Mei 2026, film tersebut juga resmi tercatat sebagai film horor Korea dengan pendapatan tertinggi sepanjang masa.
Pencapaian itu membuat Salmokji: Whispering Water melampaui rekor yang bertahan selama 23 tahun sejak diraih oleh film A Tale of Two Sisters pada 2003.
