Bahasa Kita – Rupiah melemah ke level Rp17.280 per dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026). Angka ini menjadi posisi penutupan terendah sepanjang sejarah dan memperlihatkan tekanan baru di pasar valuta asing domestik.
Sejak sesi pagi, rupiah sudah dibuka turun ke Rp17.210 per dolar AS. Tekanan kemudian membesar di tengah perdagangan hingga sempat menyentuh Rp17.320. Menjelang penutupan, pelemahan sedikit berkurang, namun tetap berakhir di titik terlemah baru.
Pasar menilai pelemahan kali ini bukan dipicu satu faktor. Ada gabungan sentimen global, lonjakan harga energi, penguatan dolar AS, dan kebutuhan valas di dalam negeri yang datang bersamaan.
Harga Minyak Jadi Tekanan Awal
Salah satu pemicu utama datang dari lonjakan harga minyak dunia. Kontrak Brent ditutup di atas US$105 per barel atau tertinggi sejak awal April 2026. Kenaikan ini terjadi saat ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat.
Selat Hormuz, jalur penting perdagangan energi dunia, kembali menjadi perhatian pasar. Gangguan pada jalur tersebut membuat investor mengantisipasi risiko pasokan minyak global.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak kerap menambah tekanan terhadap rupiah. Kebutuhan impor energi dapat meningkat ketika harga minyak naik, sehingga permintaan dolar ikut bertambah.
Dolar AS Menguat di Pasar Global
Pada saat yang sama, indeks dolar AS bergerak naik ke kisaran 98,77. Posisi itu menjadi level tertinggi sejak 9 April 2026. Ketika dolar menguat, mata uang negara berkembang biasanya berada dalam posisi tertekan.
Investor global cenderung mengalihkan dana ke aset berbasis dolar saat ketidakpastian meningkat. Arus ini membuat mata uang lain kehilangan tenaga, termasuk rupiah.
Dalam praktiknya, penguatan dolar juga membuat biaya lindung nilai dan kebutuhan pembayaran valas menjadi lebih mahal bagi pelaku usaha.
Permintaan Domestik Ikut Membesar
Kepala Ekonom Bank Central Asia David Sumual menjelaskan tekanan rupiah juga datang dari kebutuhan dolar di dalam negeri yang sedang meningkat.
“Selain isu harga minyak dan kondisi di Timur Tengah, ada seasonal demand juga untuk pembayaran dividen,” kata David.
Musim pembagian dividen membuat sebagian perusahaan membutuhkan dolar untuk memenuhi kewajiban kepada investor asing. Kondisi ini menambah tekanan ketika pasar global sedang sensitif.
Artinya, rupiah menghadapi dorongan ganda dari luar negeri dan kebutuhan internal pada waktu yang sama.
Langkah Bank Indonesia Dicermati
Kepala Ekonom dan Riset Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menilai pergerakan kurs juga mencerminkan pendekatan stabilisasi Bank Indonesia yang lebih terukur.
Menurutnya, intervensi dilakukan lebih hati-hati agar cadangan devisa tidak cepat tergerus. Strategi ini membuat pasar melihat ruang gerak rupiah lebih fleksibel dibanding periode sebelumnya.
Di sisi lain, pelaku pasar tetap menunggu respons lanjutan jika tekanan eksternal berlanjut dalam beberapa sesi ke depan.
Fokus Perdagangan Hari Ini
Pelaku pasar akan memantau arah harga minyak, perkembangan konflik Timur Tengah, serta pergerakan indeks dolar AS. Ketiga faktor itu dinilai masih menjadi penentu utama arah rupiah.
Selain itu, kebutuhan dolar domestik dan respons Bank Indonesia juga akan menjadi perhatian. Jika permintaan valas tetap tinggi, volatilitas kurs berpotensi bertahan pada perdagangan hari ini.
