Samsung memimpin pasar smartphone global pada kuartal kedua 2026 dengan pangsa pasar 24 persen. Meski begitu, pengiriman smartphone dunia justru turun ke level terendah sejak 2013 akibat kenaikan harga dan melemahnya daya beli.
Samsung kembali menjadi pemimpin pasar smartphone global pada kuartal kedua 2026 berdasarkan laporan Counterpoint Research. Produsen asal Korea Selatan tersebut menguasai 24 persen pangsa pasar dan mencatat pertumbuhan tahunan tertinggi di antara lima merek smartphone terbesar di dunia.
Pencapaian itu didorong tingginya permintaan terhadap lini Samsung Galaxy S26 Series serta strategi perusahaan yang menahan kenaikan harga di sejumlah pasar utama, termasuk Timur Tengah dan India.
Samsung Ungguli Apple di Tengah Lesunya Pasar Smartphone
Apple menempati posisi kedua dengan pangsa pasar 20 persen. Selain itu, perusahaan tersebut masih mencatat pertumbuhan pengiriman sebesar 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu berkat permintaan yang tetap stabil terhadap seri iPhone.
Meski demikian, penjualan iPhone di China masih mengalami penurunan secara tahunan. Di sisi lain, Apple diperkirakan menghadapi tantangan apabila harus menaikkan harga jual pada periode berikutnya.
Sementara itu, Xiaomi, Oppo, dan Vivo mencatat penurunan pengiriman hingga dua digit. Xiaomi menguasai 12 persen pangsa pasar, turun dari 14 persen pada kuartal kedua tahun lalu. Oppo memperoleh 11 persen, sedangkan Vivo berada di angka 8 persen.
Menurut Counterpoint Research, pengiriman smartphone global turun 11 persen pada kuartal kedua 2026. Angka tersebut menjadi level terendah untuk periode yang sama sejak 2013.
Senior Analyst Counterpoint Research Shilpi Jain menjelaskan krisis memori global menjadi tantangan terbesar industri smartphone. Kondisi tersebut membuat biaya produksi meningkat sehingga produsen menghadapi pilihan sulit dalam menentukan strategi bisnis.
“Kami melihat para produsen merespons kondisi ini dengan cara yang berbeda-beda; sebagian menaikkan harga, sebagian memperpanjang masa edar model lama, dan sebagian lainnya mengerem peluncuran produk baru,” kata Shilpi.
Selain krisis memori, ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut meningkatkan biaya logistik dan pengiriman. Pada saat yang sama, perlambatan ekonomi global, inflasi yang masih tinggi, serta melemahnya daya beli masyarakat ikut menekan permintaan, terutama di segmen smartphone kelas bawah dan menengah.
