Bahasa Kita – Kontribusi sawit Sumsel mencapai sekitar 8 persen dari total luas kebun nasional, menjadi dasar dorongan hilirisasi industri dan penguatan ekonomi daerah di tengah tekanan global terhadap ekspor.
Data tersebut disampaikan Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru yang menegaskan posisi daerahnya dalam peta industri sawit nasional. Dari total 16,8 juta hektare kebun sawit di Indonesia, Sumsel mengambil porsi signifikan.
Menurutnya, besarnya luasan tersebut bukan sekadar angka. Ada implikasi langsung terhadap produksi hingga dinamika ekspor nasional yang ikut terpengaruh oleh performa daerah.
“Jadi lengkapnya 16,8 juta hektare sawit se-Indonesia dan di Sumatera Selatan ini berarti lebih kurang 8% jumlah kebunnya dari total sawit nasional,” ujarnya.
Dalam praktiknya, kontribusi itu membuat Sumsel memiliki peran dalam fluktuasi produksi dan ekspor. Artinya, perubahan di tingkat daerah dapat berdampak pada skala nasional.
Peran Sawit dalam Menahan Tekanan Ekonomi Global
Yang jadi sorotan, sektor sawit dinilai tetap mampu menopang stabilitas ekonomi di tengah tekanan global. Hal ini terlihat dari kondisi ekspor yang sempat mengalami penurunan signifikan.
Herman Deru menyebutkan penurunan ekspor sempat mencapai 30 persen akibat situasi global, termasuk konflik di kawasan Persia. Namun, kondisi tersebut tidak langsung menggoyahkan ketahanan ekonomi nasional.
“Nyatanya pertumbuhan ekonomi kita masih terjaga untuk sampai dengan saat ini,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, sektor sawit menjadi salah satu penopang yang menjaga keseimbangan ekonomi. Meski ekspor tertekan, aktivitas produksi tetap berjalan.
Di sisi lain, hal ini menunjukkan adanya ruang untuk memperkuat struktur industri agar tidak terlalu bergantung pada kondisi eksternal.

Hilirisasi Jadi Arah Penguatan Ekonomi Daerah
Mengacu pada kondisi tersebut, pemerintah daerah melihat hilirisasi sebagai langkah strategis. Fokus tidak lagi hanya pada produksi bahan mentah, tetapi juga pada pengolahan lanjutan.
Menurut Herman Deru, momentum ini perlu dimanfaatkan untuk memperkuat kolaborasi antar pelaku industri. Hal ini mencakup organisasi, pelaku usaha, hingga pemangku kebijakan.
“Mudah-mudahan ke depan dengan solidnya kita berorganisasi dan berkontribusi untuk memberikan pikiran-pikiran hebat, dan ini bisa tetap terjaga,” katanya.
Dalam sudut pandang ini, hilirisasi menjadi alat untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi di daerah. Dampaknya tidak hanya pada pendapatan, tetapi juga pada ketahanan ekonomi jangka panjang.
Tantangan Produktivitas Dibanding Negara Lain
Meski memiliki luas lahan besar, Indonesia masih menghadapi tantangan produktivitas. Hal ini terlihat dari perbandingan dengan Malaysia yang dinilai lebih optimal dalam produksi.
Herman Deru mengakui adanya kesenjangan tersebut. Dengan luasan yang lebih kecil, perusahaan di Malaysia mampu menghasilkan produksi yang lebih tinggi.
“Kita masih kalah jauh dengan Malaysia, dengan produksi perusahaan mereka yang pada luasan jauh di bawah, namun produksinya bisa lebih optimal,” ujarnya.
Dalam konteks ini, forum yang digelar diharapkan menjadi ruang pertukaran gagasan. Fokusnya pada teknik dan strategi yang dapat meningkatkan produktivitas.
Ia menilai, upaya tersebut dapat berdampak langsung pada perekonomian daerah dan nasional. Terutama dalam memperkuat posisi industri sawit di tengah persaingan global.
