SPMB 2026 Temanggung menunjukkan penurunan jumlah murid baru di sekolah dasar negeri. Sebanyak 28 SD Negeri hanya menerima kurang dari lima siswa baru, sehingga pemerintah daerah menyiapkan penggabungan atau regrouping terhadap 10 sekolah pada tahun ini.
SPMB 2026 Temanggung mencatat sebanyak 28 sekolah dasar negeri menerima kurang dari lima murid baru. Kondisi tersebut menjadi bagian dari tren penurunan jumlah peserta didik yang telah berlangsung selama dua tahun terakhir di Kabupaten Temanggung.
Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dindikpora) Temanggung, Djoko Prasetyo, mengatakan penurunan jumlah murid dipengaruhi beberapa faktor. Menurutnya, angka kelahiran yang terus menurun serta meningkatnya pilihan orang tua menyekolahkan anak ke sekolah swasta menjadi penyebab utama.
Penurunan Murid Baru Dorong Regrouping SD Negeri
Djoko menjelaskan pemerintah daerah telah menyiapkan langkah regrouping atau penggabungan sekolah yang mengalami kekurangan peserta didik. Pada 2026, Dindikpora merencanakan penggabungan terhadap 10 sekolah.
Selain itu, pihaknya memastikan proses belajar mengajar di sekolah yang memiliki sedikit murid tetap berjalan sebagaimana mestinya. Dindikpora juga berupaya memberikan keyakinan kepada orang tua bahwa anak-anak tetap dapat belajar dan berinteraksi dengan teman di sekolah.
Salah satu sekolah yang mengalami penurunan jumlah murid baru adalah SDN Butuh. Pada pelaksanaan SPMB 2026, sekolah tersebut hanya menerima dua siswa kelas I, yakni Gilang dan Miko.
Gilang mengaku suasana kelasnya jauh lebih sepi dibandingkan saat masih belajar di taman kanak-kanak. Sementara itu, Miko justru merasa lebih nyaman mengikuti pelajaran karena suasana kelas yang tidak ramai.
Di sisi lain, guru SDN Butuh, Anisa Septiana, mengatakan minimnya jumlah murid turut memengaruhi proses pembelajaran. Berdasarkan pengalamannya mengajar tahun lalu, ia bahkan pernah mengajar satu murid karena dua siswa lainnya sering tidak masuk sekolah.
Menurut Anisa, situasi tersebut membuat guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga menjadi teman bagi peserta didik agar mereka tidak merasa kesepian selama belajar.
Guru lainnya, Evi Kurniawati, menyebut tren penurunan murid baru sudah berlangsung sekitar tujuh tahun. Jumlah siswa baru yang sebelumnya mencapai belasan orang kini terus menurun hingga kurang dari sepuluh siswa setiap tahun.
Lebih jauh, Evi menduga rendahnya angka kelahiran dan meningkatnya minat masyarakat terhadap sekolah swasta menjadi faktor utama. Bahkan, sekolah telah melakukan berbagai upaya, termasuk mendatangi calon peserta didik dari rumah ke rumah serta memberikan hadiah seperti tas dan sepatu bagi anak yang mendaftar.
