Tradisi injak kepala kerbau Lampung merupakan bagian dari ritual adat Mesol Kibau yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Prosesi ini menjadi simbol pembersihan sifat buruk sekaligus penanda pengangkatan seseorang sebagai pemimpin adat dalam upacara Begawi Cakak Pepadun.
Tradisi injak kepala kerbau Lampung kembali menjadi perhatian publik setelah prosesi tersebut muncul dalam pemberian gelar adat kepada Presiden ke-7 RI Joko Widodo beberapa waktu lalu. Namun, budayawan Lampung menegaskan bahwa ritual tersebut bukan tradisi baru, melainkan bagian dari warisan budaya yang telah diwariskan lintas generasi.
Budayawan Lampung sekaligus Dewan Pakar Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL), Admi Syarif, menjelaskan bahwa prosesi tersebut dikenal dengan istilah Mesol Kibau. Ritual itu merupakan salah satu rangkaian dalam upacara Begawi Cakak Pepadun yang memiliki makna sakral bagi masyarakat adat Lampung.
Menurutnya, prosesi tersebut telah berlangsung selama ratusan tahun dan masih dipertahankan dalam sejumlah kebuwayan atau kelompok adat di Lampung.
Apa Itu Tradisi Mesol Kibau?
Mesol Kibau merupakan prosesi penyembelihan kerbau yang menjadi bagian penting dalam upacara Begawi Cakak Pepadun.
Begawi Cakak Pepadun sendiri merupakan prosesi adat yang menandai pengangkatan seseorang sebagai penyimbang atau pemimpin adat dengan kedudukan tertinggi dalam struktur masyarakat adat Lampung.
“Prosesi ini biasanya dilakukan dalam upacara Begawi Cakak Pepadun dalam tradisi masyarakat Lampung. Cakak Pepadun merupakan prosesi sakral yang menandai seseorang memperoleh kedudukan adat tertinggi atau naik takhta sebagai penyimbang atau pemimpin adat,” kata Admi Syarif di Bandar Lampung, Selasa (30/6).
Dalam praktiknya, prosesi tersebut tidak sekadar menjadi bagian dari seremoni, tetapi juga mengandung nilai simbolik yang diwariskan turun-temurun.
Makna Menginjak Kepala Kerbau
Menurut Admi, ritual menginjak kepala kerbau melambangkan upaya menyingkirkan sifat-sifat buruk dalam diri manusia.
Sifat seperti kesombongan, iri hati, ketamakan, dan hawa nafsu digambarkan sebagai karakter yang harus dikendalikan sebelum seseorang memegang amanah sebagai pemimpin adat.
Ia menjelaskan bahwa tindakan menginjak kepala kerbau bukan bermakna penghinaan terhadap hewan, melainkan simbol pengendalian sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia.
“Mungkin orang Lampung menganggap bahwa hawa nafsu atau hawa kebinatangan itu harus dibuang. Harus diinjak dengan cara diinjak,” ujarnya.
Selain itu, ritual tersebut juga menjadi bentuk penghormatan kepada tokoh yang menerima gelar adat dalam prosesi Begawi.
Alasan Kerbau Menjadi Simbol Adat
Yang menjadi sorotan, kerbau memiliki posisi istimewa dalam budaya masyarakat Lampung.
Admi menjelaskan bahwa kerbau sejak lama menjadi simbol kekuatan, kebesaran, dan kemuliaan dalam berbagai kegiatan adat.
Karena itu, kerbau kerap digunakan sebagai ukuran dalam pelaksanaan pesta adat maupun berbagai perhitungan tradisional.
“Kerbau itu memang dianggap sebagai suatu binatang yang kuat, binatang yang besar, jadi kita ingin menunjukkan bahwa Lampung itu orang yang kuat dan orang yang besar,” kata Admi.
Ia menambahkan bahwa penggunaan kepala kerbau dipilih karena memiliki nilai simbolik yang lebih kuat dibandingkan hewan lainnya.
Tradisi Sudah Berlangsung Ratusan Tahun
Secara faktual, Admi menyebut tradisi tersebut telah dikenal sejak zaman para leluhurnya.
Ia mengaku masih mengingat prosesi penyembelihan kerbau yang dilakukan sejak masa buyutnya sebagai bagian dari pelaksanaan Begawi.
“Itu sudah berlaku beratus-ratus tahun jadi saya ingat dari jaman buyut saya itu sudah motong kepala kerbau,” katanya.
Meski demikian, tidak seluruh kelompok adat di Lampung memiliki tata cara yang sama karena setiap marga atau kebuwayan memiliki tradisi yang dapat berbeda.
Prosesi Jokowi Memicu Perhatian Publik
Tradisi ini kembali menjadi perbincangan setelah Joko Widodo menerima gelar adat “Baginda Pemuka Bangsa” di Kedatun Keagungan, Kota Bandar Lampung, Sabtu (27/6).
Dalam prosesi tersebut, Jokowi mengenakan pakaian adat Lampung dan menjalani ritual menginjak kepala kerbau yang diletakkan di atas karpet merah sebagai bagian dari rangkaian pemberian gelar adat.
Admi mempertanyakan mengapa prosesi yang telah berlangsung lama itu baru menjadi perhatian luas sekarang. Menurutnya, setiap marga di Lampung memiliki tata titi atau aturan adat yang berbeda sehingga pelaksanaannya perlu dipahami sesuai konteks masing-masing.
Ia juga menyebut masyarakat perlu melihat ritual tersebut sebagai simbol budaya, bukan sebagai bagian dari ajaran agama ataupun bentuk kepercayaan tertentu.
