Vaksin hasil rancangan AI mulai diuji pada manusia setelah tim peneliti dari University of Cambridge berhasil mengembangkan komponen utama vaksin sepenuhnya dengan bantuan kecerdasan buatan untuk menghadapi berbagai virus sekaligus.
Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini semakin luas dimanfaatkan dalam bidang kesehatan. Salah satu perkembangan terbaru datang dari University of Cambridge yang mengumumkan keberhasilan pengembangan vaksin dengan komponen utama hasil rancangan AI.
Menurut laporan BBC pada 4 Juni 2026, ini menjadi pertama kalinya komponen vaksin yang sepenuhnya dirancang menggunakan AI memasuki tahap uji coba pada manusia.
Yang jadi sorotan, para peneliti berharap teknologi tersebut dapat membuka jalan bagi pengembangan vaksin yang mampu memberikan perlindungan terhadap berbagai jenis virus, termasuk virus yang berpotensi memicu pandemi di masa depan.
Vaksin Hasil Rancangan AI Dirancang untuk Mengantisipasi Mutasi Virus
Selama ini, vaksin umumnya dikembangkan berdasarkan virus yang sedang beredar. Namun, sejumlah virus diketahui mampu bermutasi dengan cepat sehingga efektivitas vaksin dapat berkurang seiring waktu.
Dalam praktiknya, kondisi tersebut terlihat pada Covid-19 dan influenza musiman yang memerlukan pembaruan vaksin secara berkala.
Profesor Jonathan Heeney dari University of Cambridge mengatakan timnya berupaya menciptakan pendekatan yang berbeda.
“Kita selalu tertinggal. Yang kami coba lakukan adalah berada selangkah lebih maju,” kata Heeney.
Menurutnya, tujuan penelitian ini adalah menghasilkan vaksin yang mampu melindungi manusia dari virus yang ada saat ini maupun virus baru yang berpotensi menyebabkan wabah berikutnya.
AI Merancang Super-Antigen untuk Melatih Sistem Kekebalan Tubuh
Para ilmuwan mengumpulkan kode genetik dari berbagai jenis coronavirus yang ditemukan melalui program pemantauan virus di sejumlah negara.
Selanjutnya, data tersebut dianalisis menggunakan AI. Berdasarkan hasil analisis tersebut, teknologi kecerdasan buatan merancang komponen yang disebut super-antigen.
Antigen merupakan bagian penting dalam vaksin karena berfungsi melatih sistem imun mengenali dan melawan virus.
Dengan kata lain, pendekatan tersebut diharapkan dapat memberikan perlindungan terhadap berbagai anggota keluarga coronavirus, termasuk virus yang telah mengalami mutasi.
“Ini pertama kalinya antigen yang dirancang AI diuji pada manusia,” ujar Heeney.
Ia menambahkan, kemampuan AI dalam mendukung pengembangan vaksin menjadi sesuatu yang sangat menjanjikan.
“Menakjubkan melihat apa yang bisa kita lakukan dengan teknologi ini untuk kebaikan umat manusia,” katanya.
Uji Coba Awal Libatkan Puluhan Relawan
Uji coba tahap awal melibatkan 39 peserta. Fokus penelitian tersebut adalah mengevaluasi aspek keamanan vaksin.
Sementara itu, penelitian lanjutan yang melibatkan sekitar 200 orang tengah berlangsung untuk mengetahui kemampuan vaksin dalam melatih sistem kekebalan tubuh.
Hasil awal yang dipublikasikan dalam Journal of Infection menunjukkan respons imun yang terbentuk masih berada pada tingkat moderat.
Meski begitu, temuan tersebut mendapat perhatian dari kalangan ilmuwan.
Profesor Saul Faust dari University of Southampton menilai teknologi tersebut memiliki potensi besar.
“Ini benar-benar menarik. Teknologi ini jauh lebih baik dalam merancang vaksin untuk menghadapi potensi pandemi ketika virus terus berubah,” ujarnya.
Teknologi AI Berpotensi Mengubah Pengembangan Vaksin
Penelitian ini juga membuka peluang pengembangan vaksin universal untuk penyakit lain.
Saat ini, tim University of Cambridge tengah mengembangkan vaksin flu musiman yang tidak memerlukan pembaruan setiap tahun. Selain itu, penelitian juga dilakukan terhadap virus flu burung H5N1 serta kelompok virus penyebab demam berdarah, termasuk Ebola.
Direktur Oxford Vaccine Group, Profesor Andy Pollard, menilai hasil awal tersebut sangat menjanjikan.
Menurutnya, AI berpotensi menjadi pengubah permainan dalam dunia pengembangan vaksin.
“AI berpotensi memprediksi bagaimana sistem kekebalan tubuh akan merespons vaksin, sehingga proses pengembangan menjadi jauh lebih cepat dan dapat menyelamatkan lebih banyak nyawa,” kata Pollard.
