Tingkatkan Sinergi dengan Ulama, Kapolri Kunjungi Ponpes Shiddiqiyyah Jombang

Shiddiqiyyah: Kejujuran sebagai Jalan Sejarah

bahasakita.id – Dalam sejarah Islam, nilai kejujuran tidak lahir sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai respons konkret terhadap peristiwa besar. Thoriqoh Shiddiqiyyah tumbuh dari konteks itu—dari ujian iman pasca Isro’ Mi’roj hingga menjadi jalan spiritual yang menautkan iman dan kehidupan sosial.

Isro’ Mi’roj menjadi peristiwa pemisah. Ketika Rasululloh SAW menyampaikan perjalanan spiritualnya, kepercayaan umat diuji. Di titik inilah Abu Bakar Ash-Shiddiq mengambil posisi tegas. Ia membenarkan keterangan Rasululloh tanpa syarat. Sikap ini melahirkan istilah shiddiq sebagai kualitas iman tertinggi.

Shiddiqiyyah kemudian berkembang sebagai jalan spiritual yang menekankan konsistensi antara keyakinan batin dan kejujuran lahir. Bukan sekadar ritual, tetapi etika hidup.

Perjalanan sejarah membawa Shiddiqiyyah mencapai masa keemasan pada era Syekh Abu Yazid Al-Busthomi. Di wilayah Iran dan Irak, ajaran ini membentuk kesadaran kolektif masyarakat. Kejujuran tidak dipisahkan dari tauhid, dan spiritualitas tidak dilepaskan dari kehidupan sehari-hari.

Pasca wafatnya Abu Yazid, perubahan nama thoriqoh menjadi fenomena historis. Syekh Amin Al-Qurdi mencatat bahwa perubahan nomenklatur mengikuti perubahan zaman dan kepemimpinan. Substansi shiddiq tetap terjaga, meski nama Shiddiqiyyah perlahan menghilang dari ruang publik.

Indonesia kemudian menjadi ruang kebangkitan. Syekh Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi menghidupkan kembali Shiddiqiyyah sejak 1960 melalui proses panjang. Empat fase pengajaran dilalui hingga thoriqoh ini berdiri resmi pada 1972.

Yang menarik, kebangkitan ini tidak berhenti pada penguatan spiritual personal. Syekh Mukhtar menegaskan bahwa kejujuran harus diterjemahkan dalam pendidikan, kerja sosial, dan cinta tanah air. Dari prinsip ini lahir berbagai lembaga pendidikan dan organisasi kemasyarakatan.

Shiddiqiyyah, dalam konteks ini, menjadi jalan spiritual yang memulihkan makna kejujuran sebagai modal sosial. Ia mengurai sejarah bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai sumber nilai untuk menjawab tantangan zaman. ***