Uwi

Salah Istilah Uwi dan Ubi, Masalah Data yang Terabaikan

bahasakita.id – Penyamaan uwi dengan ubi jalar bukan sekadar persoalan bahasa, melainkan masalah mendasar yang memengaruhi data, riset, dan kebijakan pangan nasional.

Dalam kajian ilmiah, uwi dan ubi jalar berasal dari dua genus yang berbeda. Uwi termasuk genus Dioscorea, sementara ubi jalar berasal dari genus Ipomoea. Perbedaan ini membawa implikasi pada karakter tanaman, sistem budidaya, dan ketahanannya terhadap lingkungan.

Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Dr. Ervizal Amir, menyatakan bahwa kekeliruan istilah ini telah lama beredar di ruang publik.

Banyak publikasi menyebut uwi sebagai ubi, padahal itu keliru secara taksonomi dan sejarah pangan,” ujarnya dalam diskusi pangan lokal BRIN, Maret 2024.

Kesalahan penyebutan ini berdampak pada pencatatan statistik. Dalam data pertanian, uwi kerap dilebhttps://bahasakita.id/beras-menguat-uwi-kehilur ke dalam kelompok ubi jalar. Akibatnya, kontribusi dan potensi uwi tidak muncul secara mandiri dalam basis data nasional.

Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Dr. Sri Widowati, menilai kesalahan tersebut berpengaruh langsung pada kebijakan diversifikasi pangan.

Jika dasar datanya keliru, maka kebijakan dan risetnya ikut salah sasaran. Padahal uwi punya keunggulan agronomis yang berbeda,” katanya dalam seminar pangan tradisional UGM, September 2023.

Sejumlah peneliti mengaitkan persoalan ini dengan warisan kolonial. Pada masa itu, administrasi Belanda mengelompokkan berbagai umbi Nusantara dalam kategori umum tanpa mempertimbangkan konteks budaya dan sistem tanam lokal. Penyederhanaan tersebut bertahan hingga kini.

Di banyak wilayah, uwi tidak sekadar bahan pangan. Ia berfungsi sebagai cadangan pangan saat paceklik dan bagian dari sistem pengetahuan agrikultur masyarakat. Ketika istilahnya disederhanakan, fungsi tersebut menjadi tidak terlihat dalam kebijakan.

Peneliti etnobotani UGM, Dr. Siti Nur Handayani, menegaskan pentingnya pelurusan nomenklatur.

Uwi membawa pengetahuan lokal. Jika istilahnya salah, maka makna dan sejarahnya ikut hilang,” ujarnya dalam publikasi jurnal etnobotani UGM, 2022.

Dalam konteks tantangan pangan global dan perubahan iklim, pelurusan istilah dipandang sebagai fondasi untuk membangun kebijakan pangan yang lebih akurat dan berkelanjutan. *