Pesantren Majma'al Bahrain

Mengurai Genealogi Thoriqoh Shiddiqiyyah: Antara Fosil Sejarah dan Revitalisasi

bahasakita.id — Thoriqoh Shiddiqiyyah menegaskan eksistensi silsilah kunonya melalui bukti literasi Kitab Barzanji guna meluruskan persepsi publik mengenai sejarah panjang tarekat asal Jombang ini yang sering kali disalahpahami sebagai aliran baru. Upaya ini merupakan bentuk tanggung jawab intelektual untuk mengurai kembali benang merah spiritualitas Islam yang sempat terputus oleh dinamika sosiologis selama berabad-abad.

Secara tekstual, ajaran ini merujuk pada metode zikir yang diajarkan Rasulullah saw. secara khusus kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq. Namun, dialektika sejarah mencatat bahwa nama Shiddiqiyyah sempat meredup karena tradisi tabarruk atau penghormatan kepada guru mursyid. Dalam Kitab Tanwirul Qulub halaman 539, terungkap bahwa silsilah ini sempat bertransformasi nama menjadi Tayfuriya, Khwajaganiya, hingga Naqsabandiyah.

Dialektika Nama dan Ontologi Kepasrahan

Proses revitalisasi nama Shiddiqiyyah yang dimulai pada 1959 oleh Kiai Muchtar Mukti bukanlah sekadar upaya pergantian label. Ini adalah sebuah gerakan ontologis untuk mengembalikan makna kepasrahan pada akar yang paling orisinal.

Syekh Muchammad Muchtarullohil Mujtaba Mu’thi, melalui mandat dari Syekh Ahmad Syu’aib Jamali, berupaya membangkitkan kembali identitas yang telah lama “memfosil” agar kembali relevan bagi masyarakat.

Sebagai prasyarat masuk, tarekat ini menetapkan “8 Kesanggupan” yang bersifat komprehensif. Syarat ini mengintegrasikan ketaatan spiritual dengan tanggung jawab sosial-politik, seperti bakti pada Negara Indonesia.

Hal ini menunjukkan bahwa Shiddiqiyyah memiliki kedalaman visi dalam membentuk manusia yang tidak hanya saleh secara individu, tetapi juga memiliki kesadaran kolektif terhadap tanah air dan kemanusiaan.

Validitas Transmisi dan Eskalasi Pengaruh Global

Wakil Ketua YPS Pusat, Al-Halats Muhidin, dalam penjelasannya pada Februari 2026, menekankan pentingnya validitas sanad dalam tradisi tasawuf.

“Keaslian transmisi ilmu batin yang bersifat muttasil adalah parameter utama keabsahan sebuah thoriqoh. Shiddiqiyyah menjaga konsistensi silsilah ini agar tetap murni dari sumber aslinya di masa lalu hingga ke tangan jemaah saat ini,” jelas Muhidin dengan saksama.

Pertumbuhan jemaah yang kini mencapai angka 5 juta orang di berbagai belahan dunia menjadi data empiris atas keberhasilan revitalisasi ini.

Berpusat di Losari, Jombang, Thoriqoh Shiddiqiyyah berhasil membuktikan bahwa kedalaman makna yang berbasis pada data sejarah yang kuat mampu menjadi daya tarik utama bagi masyarakat global yang tengah mencari identitas spiritual yang kokoh dan terverifikasi. *