lailatul qadar

Menelusuri Semiotika Lailatul Qadar: Kepastian Waktu dan Kemerdekaan

bahasakita.id — Perayaan tasyakkuran lailatul qadar yang diselenggarakan Thoriqoh Shiddiqiyyah di Jombang pada Senin malam, 15 Maret 2026, menjadi sebuah ruang kontemplasi untuk mengurai makna kepastian dalam lintasan waktu.

Di tengah guyuran hujan di Pesantren Majma’al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman, ribuan jamaah diajak menyelami hakikat 27 Syahru Romadlon sebagai titik temu antara spiritualitas transendental dan kesadaran historis bangsa.

Ritual ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sebuah upaya memahami semiotika “Qadar” sebagai ketentuan nilai umur yang melampaui hitungan matematis seribu bulan.

Ontologi Waktu dan Syahadat

Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, Al Mukarrom Syekh Mochammad Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi, memberikan eksplanasi mendalam mengenai diksi “Laila” yang berarti malam dan “Qadar” yang berarti ketentuan.

Dalam ceramahnya pada Senin (15/3/2026), beliau menegaskan bahwa kepastian tersebut berkaitan erat dengan nilai waktu dua belas jam yang memiliki bobot kualitas luar biasa bagi eksistensi manusia.

“Qodar berarti Ketentuan, Kepastian. Kepastian yang dimaksud ialah tentang nilai waktu atau nilai umur,” jelas Syekh Mochammad Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi di hadapan ribuan santri.

Beliau juga memandu jamaah untuk mengaktualisasikan dua kalimat syahadat melalui lisan, hati, dan isyarah sebagai bentuk pengakuan totalitas hamba di hadapan Sang Pencipta dalam setiap tarikan napas.

Kemerdekaan sebagai Manifestasi Al-Qadar

Hal yang paling menarik dalam pengajian ini adalah keberanian beliau menarik benang merah antara kemuliaan spiritual dan realitas geopolitik Indonesia sebagai sebuah negara berdaulat.

Beliau memandang bahwa nikmat kemerdekaan Indonesia bukan sekadar peristiwa politik, melainkan manifestasi dari nilai Al-Qadar yang bersifat khusus bagi keselamatan dan martabat rakyat Indonesia.

“Menurut penilaian saya, tentang nilainya Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan berdirinya NKRI itu seperti nilai Al-Qodar khusus bagi bangsa Indonesia,” dawuh beliau dengan penuh penekanan filosofis.

Pesan ini diiringi dengan tindakan praktis berupa shodaqoh spontanitas yang terkumpul sebesar Rp119.500.000, membuktikan bahwa pemahaman atas makna suci Lailatul Qadar selalu berujung pada aksi sosial yang nyata. ***